konfigurasi ftp server

Posted in Uncategorized on Agustus 7, 2008 by wiznhu


I

PENDAHULUAN

1. Pengertian FTP

File Transfer Protocol (FTP) adalah protokol yang berfungsi untuk tukar-menukar file dalam suatu network yang menggunakan TCP koneksi bukan UDP. Dalam FTP harus ada FTP Server dan FTP Client.

FTP Server adalah suatu server yang menjalankan software yang memberikan layanan tukar menukar file dengan selalu siap memberikan layanan FTP apabila mendapat request dari FTP client.

FTP Client adalah computer yang merequest koneksi ke FTP server untuk tukar menukar file. Jika terhubung dengan FTP server, maka client dapat men-download, meng-upload, merename, men-delete, dll sesuai dengan izin yang diberikan oleh FTP server.

1. Keamanan FTP

FTP sebenarnya tidak aman dalam mentransfer suatu file karena file dikirimkan tanpa di-enkripsi terlebih dahulu tetapi bila menggunakan SFTP (SSH FTP) yaitu FTP yang berbasis pada SSH atau menggunakan FTPS (FTP over SSL) sehingga data yang akan dikirim dienkripsi terlebih dahulu.

1. Mode Dalam FTP

FTP biasanya menggunakan dua buah port untuk koneksi yaitu port 20 dan port 21 dan berjalan exclusively melalui TCP bukan UDP. FTP server mendengar pada port 21 untuk incoming connection dari FTP client. Biasanya port 21 adalah command port dan port 20 adalah data port. Pada FTP server, terdapat 2 mode koneksi yaitu aktif mode (active mode) dan pasif mode (passive mode).

1. Active Mode

Pada aktif mode ini, server secara aktif terhubung dengan client. Untuk melakukan pengaturan aktif mode, client mengirimkan sebuah port command ke server, menentukan alamat dan nomor port dari client yang sedang mendengar. Bila suatu koneksi diperlukan, server memulai suatu koneksi ke client di alamat ini. Secara umum, server bertanggung jawab untuk menutup koneksi-koneksi ini.

2. Passive Mode

Pada pasif mode, client memulai koneksi dengan server dengan memecahkan permasalahan dalam firewall penyaring koneksi port data ke client menuju server. Pertama, client menghubungi server pada command port dan mengeluarkan perintah PASV. Server kemudian memberikan jawaban dengan port 2024, memberitahu client bahwa port tersebut sedang mendengarkan untuk koneksi data. Kemudian, client memulai koneksi data dari data port-nya ke data port yang telah ditentukan oleh server.

Contoh aplikasi FTP server :

- Proftpd

- Vsftpd

- Wuftpd

- IIS (didalamnya terdapat FTP Server)

Contoh aplikasi FTP client

- CuteFTP, Wget

- WsFTP

- GetRight

- AbsoluteFTP

1. Perintah FTP

Perintah-perintah FTP yang dikirimkan terdiri atas string teks sederhana. Sebagai contoh, untuk mendapatkan kembali file, client mengirimkan “RETR filename” di koneksi kendali ke FTP server. Untuk mentransfer file, client mengirimkan “STOR filename”. FTP server mengetahui setiap perintah pada setiap balasan FTP, dimana terdiri atas tiga digit. Digit pertama menandai adanya tanggapan yang baik, tidak baik, atau yang tidak sempurna. Jika satu kesalahan terjadi, maka digit kedua digunakan untuk mendeteksi kesalahan yang terjadi. Dengan cara yang sama, digit ketiga digunakan untuk lebih menspesifikasikan kesalahan yang terjadi. Digit pertama merupakan digit yang paling utama, dan kemungkinan nilai yang muncul adalah sebagai berikut :

· 1yz Positive Preliminary reply. Permintaan diketahui, namun balasan lain dari client tetap diharapkan

· 2yz Positive Completion reply. Permintaan sukses dilakukan, sehingga client dapat mengirim permintaan lain

· 3yz Positive Intermediate reply. Perintah telah diterima, namun masih membutuhkan informasi yang lain. Client diharuskan untuk mengirimkan balasan perintah lainnya

· 4yz Transient Negative reply. Perintah gagal, namun masih ada kesempatan untuk mencobanya lagi

· 5yz Permanent Negative Completion reply. Perintah gagal, namun tidak harus diulangi lagi

Contoh perintah FTP :

· Untuk mengubah direktori yang dikirimkan oleh client :

CWD namadirektori

Server akan merespon dengan :

250 CDW command successful

Sebagai balasan, dimulai dengan a ’2’, dimana urutan perintah diselesaikan.

· Bila ingin merubah salah satu direktori dan itu tidak ada, maka perintahnya :

CWD namadirektoriyanghilang

Server akan merespon dengan :

550 namadirektoriyanghilang : The system cannot find the file spesified

Balasannya ialah a ‘5’, berarti gagal dan tetap gagal jika diulangi (kecuali direktori hilang diciptakan di server).

· Sesi Perintah (Session Commands)

Untuk memulai sesi perintah FTP, maka perintah dari USER yang dikirimkan ke server adalah :

USER chafid

Server akan memberikan balasan :

331 Password required for javaftp

Client harus memberikan balasan dengan mengisi password :

PASS 123456

Server akan memberikan balasan :

230 User chafid logged in

Setelah login user dapat menggunakan perintah yang berhubungan dengan direktori dan file. Untuk mengakhiri, client mengirimkan perintah sebagai berikut :

QUIT

Server akan memberikan balasan :

221

Sesi akhirnya ditutup, sehingga perintah apapun yang dikirimkan sudah tidak diterima lagi.

1. Tujuan pembangunan FTP Server

· Sharing data

· Menyediakan indirect atau implicit remote computer

· Menyediakan tempat penyimpanan bagi user

· Menyediakan transfer data yang reliable dan efisien

1. Alat dan bahan

· PC dengan OS Windows 2000 Server kalau tidak ada bisa menggunakan Windows XP

· Master Windows 2000 Server untuk instalasi FTP

1. Tujuan pembuatan laporan

· Agar siswa dapat menginstal FTP Server

· Agar siswa dapat mengatur konfigurasi FTP Server

· Agar siswa dapat menguji FTP Server yang telah terinstal

Konfigurasi Apache

Posted in Uncategorized on Agustus 7, 2008 by wiznhu

Untuk menginstall Webserver sebenarnya cukup dibutuhkan Apache Web Server. NAmun untuk membuat website yang dinamis, perlu komponen PHP dan MySQL.

Konfigurasi apache ada di httpd.conf , namun ada beberapa versi apache yang konfigurasinya di apache22.conf (httpd.conf-nya melompong)
Beberapa section dari httpd.conf in yang penting adalah:

Listen [IP Address]:[Port]

Dengan konfigurasi ini, apache hanya akan menerima request ke IP ini dan dari Port tertentu

Listen 80

Artinya apache akan menerima dan dari port 80 saja, kebanyakan browser memang menjadikan port 80 sebagai default

LoadModule [PathModule]

Modul-modul inilah yang akan di-load apache, termasuk modul PHP, jika kita menjalankan PHP pastikan modul ini telah ada di httpd.conf

ServerName terminal.arc.itb.ac.id

Selanjutnya, kita mendefinisikan nama web kita disini

DocumentRoot /usr/local/www/data/coba

Konfigurasi ini untuk mendefiniskan dimana kita akan

Terkadang ketika kita membuka website, kita dapat membuka direktori-direktori yang bahkan tidak berisi file html. Mungkin direktori tersebut adalah direktori konfigurasi yang sangat FORBIDDEN!!!. JAdi diperlukan konfigurasi untuk akses direktori tersebut

<Directory “/tempat/direktori”>
Options
AllowOverride
Order
Allow from
</Directory>

File konfigurasi diatas, sama dengan file .htaccess, dengan konfigurasi

AccessFileName .htaccess

Jadi apabila di suatu direktori ada file .htaccess , maka apache akan membaca file ini terlebih dahulu untuk melihat permission dari direktori tersebut

Virtual Host
Terkadang karena alasan alokasi IP yang sedikit, Virtual Host menjadi solusi untuk menjalankan webhosting. JAdi beberapa alamat domain dapat hanya memakai satu alokasi IP. Tentunya dengan menjalankan virtual host, tidak lupa setting di DNS server-nya ,
misal
Saya ingin mempunyai web station.arc.itb.ac.id dan terminal.arc.itb.ac.id di IP 167.205.3.14. JAdi termasuk dalam kategori name-based virtual-host
berikut contoh konfigurasi zone namedb di DNS Server ns.arc.itb.ac.id

station IN A 167.205.3.14

terminal IN CNAME station.arc.itb.ac.id.

LAlu untuk file konfigurasi, karena setting virtual host ada di luar httpd.conf, yaitu di ./extra/httpd-vhost.conf. Settingnya, kira-kira seperti ini

# Use name-based virtual hosting.
#
NameVirtualHost 167.205.3.14:80

<VirtualHost 167.205.3.14>
ServerAdmin imam@arc.itb.ac.id #alamat email si empunya web
DocumentRoot /usr/local/www/data/wordpress #Tempat dimana web ditaruh (Wajib!!)
ServerName station.arc.itb.ac.id # Nama Server (Wajib!!!)
ServerAlias www.station.arc.itb.ac.id
ErrorLog “/var/log/station.arc.itb.ac.id-error_log”
</VirtualHost>

<VirtualHost 167.205.3.14>
ServerAdmin imam@arc.itb.ac.id #Kurang lebih sama dengan contoh diatas
DocumentRoot /usr/local/www/data/coba
ServerName terminal.arc.itb.ac.id
ServerAlias www.terminal.arc.itb.ac.id
ErrorLog “terminal.arc.itb.ac.id-error_log”
</VirtualHost>

Include file konfigurasi di htpd.conf dapat diakses pula di luar file ini, dengan melihat file yang di-include pada konfigurasi

….
# Virtual hosts
Include etc/apache22/extra/httpd-vhosts.conf

Log.
File log dapat didefiniskan di file konfigurasi dengan konfigurasi

ErrorLog /var/log/httpd-error.log

Hmm… mungkin itu beberapa file konfigurasi apache yang penting. Sebenarnya masih banyak konfigurasi seperti pendefinisian modul-modul apache, seperti <ifmodule> dan sebagainya.

konfigurasi SQL

Posted in Uncategorized on Agustus 7, 2008 by wiznhu

SQL

Anda telah mendapatkan gambaran umum mengenai SQL Reporting Services. Namun sebelum melangkah lebih jauh lagi dengan menginstal software tersebut, anda perlu mengenal komponen-komponen yang ada di dalamnya. Secara garis besar, komponen SQL Reporting Services dibedakan menjadi dua: komponen server dan komponen klien. Selanjutnya, komponen server dibagi lagi menjadi tiga lapisan:

1. Report Server (server layer)

· Programmatic interface.

· Report processor.

· Data processing extension.

· Rendering extension.

· Scheduling dan delivery processor.

· Delivery extension.

2. Report Manager (application layer)

Untuk menampilkan laporan dan perangkat administrasi berbasis web.

3. Report Server database (data layer)

Database-database SQL Server (default-nya bernama ReportServer dan ReportServerTempDB), menyimpan informasi yang digunakan Report Server.

Database ReportServer menyimpan data konfigurasi statik (metadata) seperti:

· Report definition.

· Data source.

· User, policy, dan role.

· Report snapshot.

Database ReportServerTempDB menyimpan data sementara seperti:

· Session data

· Cached report

Sedangkan komponen klien terdiri dari:

1. Report Designer

2. Web browser

3. Third-party tools

Uraian selanjutnya akan menjelaskan persiapan dan langkah-langkah instalasi dari setiap komponen.

2.2. Persiapan Instalasi

Untuk instalasi Report Server, Report Manager dan report server database yang standar, Reporting Services membutuhkan spesifikasi hardware minimum sebagai berikut:

· Komputer dengan processor Intel Pentium II 500 MHz atau yang lebih tinggi

· RAM: 512 MB

· Harddisk:

o Report Server (termasuk Report Manager): 50 MB

o Report Designer: 30 MB

o Microsoft .NET Framework: 100 MB

o Books Online dan contoh aplikasi/database : 145 MB

Ingat sekali lagi, bahwa spesifikasi di atas adalah kebutuhan yang minimum –bukan yang direkomendasikan. Pada prakteknya tentu anda menginginkan konfigurasi yang lebih baik. Terlebih jika anda berencana mengimplementasikan model Enterprise, tentunya tuntutan spesifikasi hardware akan meningkat secara signifikan. Anda akan membutuhkan sebuah atau beberapa server berkelas dan berperforma tinggi.

Catatan:

Secara umum, yang harus diperhatikan pada report server database adalah bahwa server tersebut membutuhkan ruang harddisk yang besar. Sementara itu, Report server membutuhkan kecepatan processor yang tinggi dan ukuran RAM yang besar.

Di sisi lain, terlepas dari konfigurasi hardware yang anda miliki, Reporting Services membutuhkan prasyarat instalasi (setup Prerequisites) yang harus sudah ada di dalam sistem sebelum Reporting Services itu sendiri diinstal. Anda dianjurkan untuk melakukan persiapan ini dengan seksama karena bila software itu tidak ditemukan, instalasi Reporting Services mungkin tidak akan berjalan dengan lancar.

Gambar 2.1.

Gambar di atas menunjukkan hasil verifikasi program setup Reporting Services sebelum instalasi dilakukan. Anda harus memperhatikan dengan baik-baik pesan yang ditampilkan. Pada beberapa kasus anda harus membatalkan instalasi untuk memenuhi terlebih dahulu prasyarat yang diminta.

Sebelum anda mengimplementasikan Reporting Services pada server production, ada baiknya anda melakukannya terlebih dahulu pada sebuah komputer uji coba (sebuah PC atau server). Ada beberapa alasan mengapa anda perlu melakukan ini. Server production adalah server yang digunakan untuk kepentingan bisnis perusahaan anda. Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar, anda pasti mengetahui betapa pentingnya server ini untuk kelangsungan operasi perusahaan sehingga apa pun yang anda lakukan pada server ini haruslah dengan hati-hati. Instalasi atau perubahan konfigurasi pada server production harus direncanakan dengan  seksama dan melalui prosedur tertentu. Sementara pada server development, anda mempunyai keleluasaan yang jauh lebih besar. Sekalipun anda belum fasih dengan sebuah software baru, anda bisa menginstal dan mencoba-cobanya tanpa resiko tinggi.

Terlepas dari instalasinya, proses akuisisi teknologi baru membutuhkan waktu yang tidak singkat, mungkin bisa berbulan-bulan sampai kita mampu menguasainya. Selama rentang waktu itu, tentunya kita mempelajari banyak teori, mempraktekkannya dan merubahnya disana-sini. Server development adalah tempat yang tepat. Sekalipun telah beralih ke server production, server development tetap diperlukan untuk ajang eksperimen.

Sebagai gambaran, selama saya mempelajari Reporting Services, saya menginstal semua komponen server dan client pada komputer yang sama: notebook pribadi saya. Silakan anda perhatikan spesifikasinya:

· Processor: Intel Pentium IV

· RAM: 256 Mb

· Harddisk: 80 Gb

· Software:

o Windows XP Professional, Service Pack 2

o Ms SQL Server 2000, Developer Editition, Service Pack 2a

o Ms SQL Server 2000 Reporting Services, Developer Editition

o Ms Visual Studio .NET 2003

Karena ini adalah tahap belajar, saya berpikir cukup memerlukan satu komputer agar saya bisa bekerja dengan mudah tanpa berpindah-pindah. Saya rasa anda bisa melakukan hal yng sama.

2.2.1. Sistem operasi dan Service Pack

Edisi Reporting Services

Komponen

Sistem Operasi

Edisi Evaluation

Server atau client

· Windows 2000 dengan SP4, semua edisi

· Windows 2003, semua edisi

Edisi Standard

Server

· Windows 2000 Server dengan SP4

· Windows 2000 Advanced Server dengan  SP4

· Windows 2000 Datacenter Server dengan  SP4

· Windows Server 2003, edisi Standard, edisi Enterprise, atau edisi Datacenter

Edisi Standard

Client

· Windows 2000 dengan SP4

· Windows XP Professional dengan SP1

Edisi Enterprise

Server

· Windows 2000 Server dengan SP4

· Windows 2000 Advanced Server dengan SP4

· Windows 2000 Datacenter Server dengan SP4

· Windows Server 2003, edisi Standard, edisi Enterprise, atau edisi Datacenter

Edisi Enterprise (hanya komponen client)

Client

· Windows 2000 dengan SP4

· Windows XP Professional dengan SP1

Edisi Developer

Server atau Client

· Windows XP Professional dengan SP1

· Win2000 dengan SP4, semua edisi

· Windows 2003, semua edisi

2.2.2. Prasyarat Komponen Report Server

Berikut ini adalah prasyarat yang dibutuhkan sebelum menginstal komponen Report Server.

a. Distributed Transaction Coordinator (MS DTC)

Anda harus memeriksa apakah tipe startup dari service tersebut di-set ke Automatic atau Manual.

1. Jalankan Administrative Tools pada Control Panel kemudian pilih Services.

Gambar 2.2.

2. Untuk melihat atau merubah tipe startup, klik-kanan pada Distributed Transaction Coordinator, kemudian pilih Properties.

Gambar 2.3.

3. Pada opsi Startup type, pilih Automatic atau Manual. Klik Ok.

b. Web server dengan ASP.NET dan Internet Information Services (IIS) 5.0

Jika anda menggunakan sistem operasi Windows XP, Windows 2000 atau Windows 2003, sementara anda belum menginstal IIS maka hal tersebut bisa dilakukan dengan mudah.

1. Dari tombol Start, jalankan Setting à Control Panel.

2. Klik Add or Remove Program.

3. Pada window yang terbuka, pilih Add/Remove Windows Component.

Gambar 2.4.

4. Pada daftar komponen, pilihlah Internet Information Services. Jika anda tidak menemukannya, pilih Application Server dilanjutkan menekan tombol Detail. Anda akan menemukannya di sana.

Gambar 2.5.

5. Selanjutnya Windows akan meminta CD instalasi untuk dimasukkan ke CD ROM drive.

Sementara itu, yang dibutuhkan untuk menginstal ASP.NET adalah menginstal Microsoft .NET Framework (saat artikel ini ditulis, versi yang terakhir adalah Microsoft .NET Framework  1.1 dengan Service Pack 1).

Jika anda menggunakan Windows 2003, anda bisa menginstal ASP.NET bersamaan dengan IIS seperti diperlihatkan pada gambar 2.5. Namun jika anda menggunakan sistem operasi yang lain, Microsoft .NET Framework dapat diinstal dari tombol Start, jalankan All Programs à Windows Update. Program Internet browser akan terbuka dan membawa anda ke situs Microsoft untuk menginstal komponen tersebut. Prosesnya sangat mudah, anda hanya tinggal mengikutinya. Tetapi karena instalasinya dilakukan melalui Internet, prosesnya akan memakan waktu yang cukup lama.

Solusinya adalah men-download Microsoft .NET Framework Redistributable Package langsung dari situs Microsoft pada alamat:

http://www.microsoft.com/downloads/details.aspx?FamilyId= 262D25E3-F589-4842-8157-034D1E7CF3A3&displaylang=en

Paket instalasi ini adalah sebuah file EXE. Anda bisa saja menggunakan program semacam download accelerator untuk mempercepat proses download. Setelah anda mendapatkan file tersebut, anda bisa menginstalnya berulang-kali pada komputer-komputer yang membutuhkannya.

Gambar 2.6.

Cara lain untuk menginstal Microsoft .NET Framework adalah dengan menginstal Visual Studio .NET. Namun tentunya anda tidak akan menginstal development tool pada server production, bukan? Cara ini bisa digunakan jika anda hendak menginstal Reporting Services pada komputer kerja anda untuk tujuan development.

Setelah selesai menginstal IIS, ada dua hal yang harus anda periksan:

· Pastikan IP address untuk situs web default dipetakan ke (All Unassigned).

Gambar 2.7.

· Hal lainnya adalah account IWAM_<nama_server> harus dalam keadaan aktif.

Gambar 2.8.

c. Microsoft Data Access Component (MDAC) versi 2.6

Sebelum menginstal MDAC, sebaiknya anda memeriksa dulu pada komputer yang bersangkutan apakah instalasi perlu dilakukan. Bisa saja MDAC sudah terinstal. Untuk memeriksanya, anda bisa men-download program MDAC Utility: Component Checker pada alamat:

http://msdn.microsoft.com/data/mdac/downloads/default.aspx

Gambar 2.9.

Untuk men-download MDAC (versi terakhir saat artikel ini ditulis adalah MDAC 2.8) anda bisa merujuk pada alamat situs web yang sama di atas.

d. Koneksi ke SQL Server 2000 SP3a

Jika Report Server dan Report Server database diinstal pada komputer yang berbeda, pastikan Report Server bisa terkoneksi dengan baik ke Report Server database.

e. Situs Web default dapat diakses dengan http://<nama_server>

Setelah IIS terinstal pada Report Server, pastikan situs web default-nya dapat diakses dengan alamat http://<nama_server>.

f. Untuk Windows 2003, server harus dikonfigur sebagai application server

Jika Report Server hendak diinstal pada Windows 2003, pastikan server tersebut dikonfigur sebagai application server.

1. Jalankan Start à Programs à Adminstrative Tools kemudian pilih Configure Your Server Wizard.

Gambar 2.10.

2. Windows akan menampilkan sebuah window Wizard. Klik tombol Next.

Gambar 2.11.

3. Klik tombol Next.

Gambar 2.12.

4. Pada window di atas, perhatikan kolom Server Role. Periksa apakah role Application server sudah dikonfigur. Jika indikatornya adalah “No”, anda harus melanjutkan Wizard ini dengan menekan tombol Next. Sebaliknya, bila “Yes” – anda bisa segera keluar dari Wizard ini. Hasil yang ditunjukkan oleh Wizard bisa berbeda pada setiap server, oleh karena itu anda harus menyesuaikannya sendiri dengan server anda.

Untuk membaca informasi lebih lanjut mengenai server role dan tingkat keamanannya, anda bisa membacanya pada dokumen bernama Windows Server 2003 Security Guide yang bisa anda download dari situs web:

http://www.microsoft.com/technet/security/prodtech/ windowsserver2003/W2003HG/SGCH00.mspx

2.2.3. Prasyarat Komponen Report Manager

Report Manager adalah sebuah aplikasi ASP.NET yang diinstal pada komputer yang sama dengan  Report Server. Instalasi Report Manager adalah opsional. Jika anda menggunakan  report viewing yang kustom atau management tool yang kustom, maka anda tidak membutuhkan komponen ini.

Prasyarat yang dibutuhkan oleh Report Manager aalah:

a. Web server dengan ASP.NET

b. IIS 5.0

c. Situs web default dapat diakses melalui http://<nama_server>

Seperti yang anda lihat, prasyarat yang dibutuhkan serupa dengan prasyarat komponen Report Server. Oleh karena itu jika anda telah mempersiapkan Report Server dengan benar, maka prasyarat Report Manager juga terpenuhi.

2.2.4. Prasyarat Komponen Report Server Database

Ingat bahwa Report Server dan Report Server Database bisa merupakan server yang sama atau server yang berbeda. Terlepas dari konfigurasi yang anda pilih, Report Server database haruslah merupakan sebuah komputer dengan SQL Server 2000 SP3a. Pada saat artikel ini ditulis, SQL Server 2005 belum dirilis. Namun pada waktunya nanti, tentu anda bisa memilih antara dengan SQL Server 2000 SP3a atau SQL Server 2005.

2.2.5. Prasyarat Komponen Client

Pada dasarnya komponen client tidak membutuhkan prasyarat. Komponen-komponen client dapat diinstal pada komputer kerja yang terpisah dari server production atau bisa juga diinstal pada server production.

Komponen

Kebutuhan

Report Designer

Microsoft Visual Studio .NET 2003 dan MDAC 2.6 atau yang lebih tinggi.

Administrative tool dan utility

Komputer dengan akses ke Report Server.

Reporting Services Books Online

Tidak ada prasyarat.

Contoh-contoh aplikasi dan laporan

Tidak ada prasyarat.


2.3. Memulai Instalasi

Setelah anda selesai menyiapkan hardware dan prasyarat software untuk Report Server dan Report Server database, maka instalasi Reporting Services bisa dimulai.

1. Masukkan CD instalasi SQL Server Reporting Services ke dalam CD ROM drive pada komputer yang akan diinstal Report Server.

Gambar 2.13.

2. Program setup akan mempersiapkan proses dengan meng-copy file-file yang diperlukan selama instalasi. Ini adalah tahap persiapan, anda bisa menekan tombol Install untuk melanjutkan.

Setelah prosesnya selesai, anda bisa melanjutkan dengan menekan tombol Next.

Gambar 2.14.

3. Selanjutnya program akan memeriksa apakah komponen-komponen prasyarat sudah terinstal pada komputer yang bersangkutan. Jika tidak ada pesan yang signifikan, anda bisa melanjutkan dengan menekan tombol Next.

Catatan:

Pada tahap ini anda mungkin akan menjumpai pesan “Visual Studio .NET 2003 is not installed”. Ini bukan kesalahan yang fatal. Pesan ini bisa diabaikan jika anda memang tidak berencana menginstal Visual Studio .NET pada komputer tersebut.

Jika anda melihat pesan peringatan tentang beberapa prasyarat penting yang belum terpenuhi, sebaiknya anda menghentikan proses instalasi ini dan menginstal komponen-komponen yang diminta tersebut terlebih dahulu. Anda bisa kembali ke proses instalasi ini setelah itu.

Gambar 2.15.

4. Program setup akan memulai instalasi Reporting Services. Klik Next.

Gambar 2.16.

5. Silakan mengisi informasi nama dan perusahaan anda. Klik Next.

Gambar 2.17.

6. Pada window ini anda dapat menentukan komponen-komponen apa saja yang akan diinstal pada komputer yang bersangkutan. Lanjutkan dengan menekan tombol Next.

Gambar 2.18.

7. Berikutnya anda harus menentukan account yang akan menjalankan Reporting Services. Ini adalah account yang menjalankan service ReportServer.

Pilihan yang tersedia adalah built-in account atau domain user account. Jika anda memilih built-in account, maka program setup akan  menetapkan NT AUTHORITY\SYSTEM sebagai account yang menjalankan service tersebut.

Sementara itu, jika anda memilih domain user account, anda harus mengisi nama user, password dan domain dimana user tersebut dibuat.

Microsoft merekomendasikan untuk menggunakan tipe account yang disesuaikan dengan jenis sistem operasi Windows, service tersebut dan konfigurasi domain anda. Tipe account yang bekerja baik pada sebuah sistem operasi bisa jadi tidak efektif pada lingkungan yang lain. Yang perlu anda perhatikan pada pemilihan account adalah bahwa pilihan tersebut mempengaruhi koneksi antara Report Server dan Report Server database, juga antara server tersebut dengan sumber-sumber data yang digunakan oleh laporan-laporan yang bersangkutan.

Jika Report Server berjalan di atas Windows Server 2003 atau Windows XP, anda bisa memilih built-in account atau domain user account. Sementara itu jika anda menggunakan Windows 2000, anda perlu memperhatikan konfigurasi domain yang ada. Jika domain anda memiliki beberapa domain controller yang menjalankan sistem operasi yang beragam (dan domain functional level-nya mendukung Windows 2000) anda dianjurkan memilih built-in Local System account (NT AUTHORITY/SYSTEM).

Jika domain anda hanya terdiri dari Windows Server 2003 domain controllers (dan domain functional level-nya dinaikkan ke Windows Server 2003), anda bisa menggunakan domain account untuk menjalankan ReportServer Windows service. Pada beberapa kasus, domain-domain Windows Server 2003 membatasi Local System account dari komputer-komputer Windows 2000. Jika hal ini terjadi pada domain anda, maka Report Server (yang berjalan sebagai Local Sytem pada Windows 2000) tidak mempunyai akses ke informari domain account dari domain  Windows Server 2003, akibatnya fungsi-fungsi Report Server tidak akan bekerja dengan baik.

Yang terakhir, program setup juga akan membuat sebuah account baru bernama ASPNET pada komputer yang sedang diinstal ini untuk menjalankan web service. Anda tidak bisa menggunakan account yang lain selama proses instalasi ini.

Klik Next untuk melanjutkan.

Gambar 2.19.

8. Selanjutnya anda menentukan nama virtual directory yang akan dibuat pada IIS. Anda bisa mengaktifkan opsi SSL, namun sebaiknya untuk saat ini dinon-aktifkan dulu. Kita akan mengaktifkannya nanti setelah uji coba semua koneksi telah berjalan dengan baik.

Lanjutkan dengan menekan Next.

Gambar 2.20.

9. Pada window ini anda harus menentukan parameter database untuk terhubung ke Report Server database. Pada SQL Server instance anda harus mengisikan nama SQL Server dimana Report Server database berada. Database ini bisa berada pada server yang sama dengan Report Server atau server yang terpisah. Hal ini tergantung dari konfigurasi yang anda pilih.

Berikutnya anda mengisikan nama database yang akan berisi report metadata.

Terakhir anda menentukan Credentials Type yang digunakan Report Server untuk login ke Report Server database. Pilihannya ada tiga:

· Service account

· Domain account

· SQL Server login

Jika Report Server database diinstal pada komputer yang berbeda dari Report Server, pilihan anda adalah Domain account atau SQL Server login. Sementara itu jika Report Server database dan Report Server diinstal pada komputer yang sama, maka anda bisa memilih salah satu dari ketiga tipe credential tersebut.

Klik Next untuk melanjutkan.

Gambar 2.21.

10. Pada layar berikutnya anda diminta untuk memasukkan alamat SMTP server yang berguna untuk pengiriman laporan lewat e-mail. Untuk sementara anda bisa mengosongkan kolom-kolomnya.

Klik Next.

Gambar 2.22.

11. Berikutnya anda harus memasukkan nama SQL Server untuk menginstal contoh database. Klik Next.

Gambar 2.23.

12. Yang terakhir anda harus menentukan jenis licensing dari Reporting Services. Hal ini harus disesuaikan dengan konfigurasi server-server yang anda miliki seperti yang telah dijelaskan pada bab 1.

Tekan Next untuk melanjutkan.

Gambar 2.24.

13. Proses instalasi telah selesai. Klik Finish untuk mengakhiri.

Jika pada layar di atas anda menjumpai pesan bahwa Report Server harus diinisialisasi secara manual (seperti pada gambar di atas), maka berikut ini adalah langkah-langkah yang harus dilakukan.

1. Pastikan ReportServer service dan MSSQLSERVER service diaktifkan pada Report Server.

2. Pastikan MSSQLSERVER service diaktifkan pada Report Server database (jika Report Server dan Report Server database diinstal pada server yang berbeda).

3. Pada Report Server, jalankan command shell (Start à Run, kemudian ketik cmd pada kolom perintah).

4. Arahkan direktori kerja ke lokasi program SQL Server, umumnya C:\Program Files\Microsoft SQL Server\80\Tools\Binn. Lokasi ini bisa berbeda tergantung instalasi anda.

Gunakan perintah CD untuk pindah ke direktori tersebut.

CD “C:\Program Files\Microsoft SQL Server\80\Tools\Binn

5. Pada command prompt ketikkan perintah

rsactivate -m <nama_server>

Report Server telah diinisialisasi.

2.4. Menguji Hasil Instalasi

Setelah instalasi selesai dilakukan, anda harus menguji hasilnya.

1. Pastikan service untuk SQL Server, IIS dan Reporting Service sedang berjalan pada server yang bersangkutan.

1. Jalankan Control Panel à Administrative Tools à Services.

2. Pastikan status dari tiga service ini adalah Started:

o MSSQLSERVER

o ReportServer

o World Wide Web Publishing

2. Pastikan Report Server sedang berjalan.

Jalankan program Internet browser dan ketikkan alamat:

http://<nama_report_server> /ReportServer

Pada browser anda harus muncul tampilan seperti di bawah ini, yang menandakan Report Server telah terinstal dan berjalan dengan baik.

Gambar 2.25.

3. Pastikan Report Manager sedang berjalan.

Jalankan program Internet browser dan ketikkan alamat:

http://<nama_report_server> /Reports

Pada browser anda harus muncul tampilan seperti di bawah ini, yang menandakan Report Manager telah terinstal dan berjalan dengan baik.

Gambar 2.26.

Dengan selesainya verifikasi hasil instalasi, maka seluruh proses instalasi Reporting Services telah selesai.

Bikin router nat dengan slackware 10.2

Posted in Uncategorized on Agustus 7, 2008 by wiznhu

Pada kali ini saya mencoba untuk membuat sebuah router, dengan configurasi standart Nat yang menggunakan linux 10.2. dan dengan kesempatan ini pula, saya menulis juga langkah langkah yang saya hadapi, selama mencoba menkoneksikan diri ke internet dengan percobaan saya, dan dengan dilengkapi dengan tutorial tutorial yang saya baca.

Pertama sekali kita telah terlebih dahulu telah menginstal slackwarenya pada komputer terserah komputer apa aja, yang saya sendiri memakai komputer di atasi pentium, dengan ethernet realtek dua buah yang saya pasang.

Setelah instalasi linux ke komputer dengan catatan, konfigurasi tidak saya isikan pas pertama instalasi, diantaranya isian network ip. Dengan tujuan kita akan mengisinya lewat console, supaya kita lebih mengerti cara pengisiannya termasuk untuk mengerti oleh saya sendiri.

Kita umpamakan kita telah mendapat ip dari sumber kita dengan IP

Ip = xxx.xxx.xxx.xxx

Netmask = 255.255.255.240

Gateway = xxx.xxx.xxx.yyy

Dns = zzz.zzz.zzz.zzz

Dns 1 = www.www.www.zzz

Pertama loginlah pada linux slackware anda, dan isikan passwordnya dengan password anda. Kemudian akan tampil tampilan seperti dibawah ini:

login as: root

root@192.168.0.1’s password:

Last login: Sat May 26 21:37:05 2007 from 192.168.0.254

Linux 2.4.29.

root@qnoys:~#

Setelah login dan tampilannya adalah seperti ini mungkin akan beda dengan tampilan anda sedikit, yaitu pada namanya. Untuk pertama sekali anda akan mendapatkan tampilannya pada anda yaitu darkstar, tapi itu bukan jadi soal yah J. Itu bisa diubah nama hostname anda dengan mengetikan “netconfig”.

Selanjutnya kita akan mengisi ip address pada masing masing ethernet yang sebelum melakukan hal tersebut, iseng iseng kita coba dulu ifconfig yah :D , supaya kita atau saya mengerti lagi. D

root@qnoys:~# ifconfig

lo Link encap:Local Loopback

inet addr:127.0.0.1 Mask:255.0.0.0

UP LOOPBACK RUNNING MTU:16436 Metric:1

RX packets:0 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0

TX packets:0 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0

collisions:0 txqueuelen:0

RX bytes:0 (0.0 b) TX bytes:0 (0.0 b)

root@qnoys:~#

Melihat tampilan di atas, kita tahu bahwa kedua ethernet tersebut belum terdeteksi sama sekali oleh linux kita/saya sendiri, karna kita belum memuat modul ethernet kedalam kernel kita, untuk melihat module apa yang dibutuhkan oleh ethernet kita, coba kita lihat merk ethernet kita, dan lihat code chipsetnya code berapa. Dengan mengetikkan: “lspci”

root@qnoys:~# lspci

00:00.0 Host bridge: Intel Corp. 82845G/GL[Brookdale-G]/GE/PE DRAM Controller/Ho st-Hub Interface (rev 03)

00:02.0 VGA compatible controller: Intel Corp. 82845G/GL[Brookdale-G]/GE Chipset Integrated Graphics Device (rev 03)

00:1d.0 USB Controller: Intel Corp. 82801DB (ICH4) USB UHCI #1 (rev 02)

00:1d.1 USB Controller: Intel Corp. 82801DB (ICH4) USB UHCI #2 (rev 02)

00:1d.2 USB Controller: Intel Corp. 82801DB (ICH4) USB UHCI #3 (rev 02)

00:1d.7 USB Controller: Intel Corp. 82801DB (ICH4) USB2 EHCI Controller (rev 02)

00:1e.0 PCI bridge: Intel Corp. 82801BA/CA/DB/EB/ER Hub interface to PCI Bridge (rev 82)

00:1f.0 ISA bridge: Intel Corp. 82801DB (ICH4) LPC Bridge (rev 02)

00:1f.1 IDE interface: Intel Corp. 82801DB (ICH4) Ultra ATA 100 Storage Controll er (rev 02)

00:1f.3 SMBus: Intel Corp. 82801DB/DBM (ICH4) SMBus Controller (rev 02)

00:1f.5 Multimedia audio controller: Intel Corp. 82801DB (ICH4) AC’97 Audio Cont roller (rev 02)

01:02.0 Ethernet controller: Realtek Semiconductor Co., Ltd. RTL-8139/8139C/8139 C+ (rev 10)

01:04.0 Ethernet controller: Realtek Semiconductor Co., Ltd. RTL-8139/8139C/8139 C+ (rev 10)

root@qnoys:~#

Diatas kita bisa lihat merek ethernet kita dan jenis chipset, saya ga’ tau jenis chipset yang mana neh, yang penting saya tau, chipset ethernet saya adalah realtek, dengan kode RTL-8139/8139c/8139c+ adalah kedua dua ethernet saya.

Kemudian kita coba lihat apa saja modul yang telah termuat kedalam kernel saya, dengan mengetikkan, :kalau ga’ salah inilah yang pertama sekali saya liat waktu itu

root@qnoys:~# lsmod

Module Size Used by Not tainted

ide-scsi 9392 0

agpgart 45092 0 (unused)

root@qnoys:~#

Melihat konfigurasi di atas, kita tahu, bahwa modul yang kita butuhkan belum dimuat kedalam kernel, dan kita harus mencari modul tersebut supaya dimuat kedalam kernel kita, dengan mencari modul tersebut pada direktory apa yah saya lupa.. pokoknya gini deh, ketik aja perintah dibawah ini, soalnya saya juga kemaren nyari nyari juga seperti, kek gini neh .. >>>

root@qnoys:~# cd /lib/modules/2.4.29/kernel/drivers/net/

dan sekarang kita telah berada pada folder /net/ yang berada di bawah folder. /lib/modules/2.4.29/kernel/drivers/. J. Sekarang kita coba lihat isi dari folder net tersebut.

root@qnoys:/lib/modules/2.4.29/kernel/drivers/net# ls

3c501.o.gz atp.o.gz eql.o.gz ni65.o.gz smc9194.o.gz

3c503.o.gz b44.o.gz eth16i.o.gz ns83820.o.gz starfire.o.gz

3c505.o.gz bonding/ ethertap.o.gz pcmcia/ strip.o.gz

3c507.o.gz bsd_comp.o.gz ewrk3.o.gz pcnet32.o.gz sundance.o.gz

3c509.o.gz cs89×0.o.gz fc/ plip.o.gz sungem.o.gz

3c515.o.gz de4×5.o.gz fealnx.o.gz ppp_async.o.gz sunhme.o.gz

3c59x.o.gz de600.o.gz forcedeth.o.gz ppp_deflate.o.gz tg3.o.gz

8139cp.o.gz de620.o.gz hamachi.o.gz ppp_generic.o.gz tlan.o.gz

8139too.o.gz defxx.o.gz hamradio/ ppp_synctty.o.gz tokenring/

82596.o.gz depca.o.gz hp-plus.o.gz pppoe.o.gz tulip/

8390.o.gz dgrs.o.gz hp.o.gz pppox.o.gz tun.o.gz

ac3200.o.gz dl2k.o.gz hp100.o.gz r8169.o.gz typhoon.o.gz

acenic.o.gz dmfe.o.gz irda/ rcpci.o.gz via-rhine.o.gz

aironet4500_card.o.gz dummy.o.gz lance.o.gz sb1000.o.gz wan/

aironet4500_core.o.gz e100/ lp486e.o.gz shaper.o.gz wavelan.o.gz

aironet4500_proc.o.gz e1000/ mii.o.gz sis900.o.gz wd.o.gz

amd8111e.o.gz e2100.o.gz natsemi.o.gz sk98lin/ winbond-840.o.gz

arcnet/ eepro.o.gz ne.o.gz skfp/ wireless/

arlan-proc.o.gz eepro100.o.gz ne2k-pci.o.gz slhc.o.gz yellowfin.o.gz

arlan.o.gz eexpress.o.gz ni5010.o.gz slip.o.gz

at1700.o.gz epic100.o.gz ni52.o.gz smc-ultra.o.gz

root@qnoys:/lib/modules/2.4.29/kernel/drivers/net#

Di atas telah kita lihat, isi dari folder net/ dengan berbagai macam driver di dalamnya. Dan diantaranya kita dapat juga melihat ada driver 8139, dan itu merupakan driver untuk ethernet card kita. Dan sekarang kita akan memasukkan modul tersebut kedalam kernel, dengan perintah “modprobe”.

root@qnoys:/lib/modules/2.4.29/kernel/drivers/net# modprobe 8139too

root@qnoys:/lib/modules/2.4.29/kernel/drivers/net#

Sekarang kita coba cek, modul modul apa yang telah terinstal kedalam kernel dengan mengetikan lagi perintah “lsmod”

root@qnoys:/lib/modules/2.4.29/kernel/drivers/net# lsmod

8139too 13928 2

mii 2272 0 [8139too]

crc32 2880 0 [8139too]

ide-scsi 9392 0

agpgart 45092 0 (unused)

root@qnoys:/lib/modules/2.4.29/kernel/drivers/net/

Selanjutnya kita masukkan dulu ip kedua ethernet kita kedalam file konfigurasi “rc.inet1.conf”, yang berada dibawah folder. /etc/rc.d/ yang merupakan file configurasi untuk ethernet card, dengan mengetikan perintah,

root@qnoys:/lib/modules/2.4.29/kernel/drivers/net# vi /etc/rc.d/rc.inet1.conf

reading /etc/rc.d/rc.inet1.conf

# /etc/rc.d/rc.inet1.conf

#

# This file contains the configuration settings for network interfaces.

# If USE_DHCP[interface] is set to “yes”, this overrides any other settings.

# If you don’t have an interface, leave the settings null (””).

# Config information for eth0:

IPADDR[0]=”xxx.xxx.xxx.xxx

NETMASK[0]=”255.255.255.240″

USE_DHCP[0]=””

DHCP_HOSTNAME[0]=””

# Config information for eth1:

IPADDR[1]=”192.168.0.1″

NETMASK[1]=”255.255.255.0″

USE_DHCP[1]=””

DHCP_HOSTNAME[1]=””

# Config information for eth2:

IPADDR[2]=””

NETMASK[2]=””

USE_DHCP[2]=””

DHCP_HOSTNAME[2]=””

# Config information for eth3:

IPADDR[3]=””

NETMASK[3]=””

USE_DHCP[3]=””

DHCP_HOSTNAME[3]=””

# Default gateway IP address:

GATEWAY=” xxx.xxx.xxx.yyy

# Change this to “yes” for debugging output to stdout. Unfortunately,

# /sbin/hotplug seems to disable stdout so you’ll only see debugging output

# when rc.inet1 is called directly.

DEBUG_ETH_UP=”no”

Setelah file “rc.inet1.conf” telah di isi dengan ip, sekarang kita save file tersebut, dengan menekan Esc sekali lalu titik 2 “:” dan menekan “wq” dengan tujuan save hasil kerja,

Setelah itu kita coba aktifkan file tersebut, dengan perintah

root@qnoys:/# /etc/rc.d/rc.inet1

root@qnoys:/#

Kemudian kita coba cek, apakah ethernet kita sudah aktif ataukah belum? Dengan mengetikkan perintah.

root@qnoys:/# ifconfig

eth0 Link encap:Ethernet HWaddr 00:40:95:30:1C:B6

inet addr:xxx.xxx.xxx.xxx Bcast:xxx.xxx.xxx.xxx Mask:255.255.255.240

UP BROADCAST RUNNING MULTICAST MTU:1500 Metric:1

RX packets:31986 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0

TX packets:5170 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0

collisions:0 txqueuelen:1000

RX bytes:6457788 (6.1 Mb) TX bytes:1955401 (1.8 Mb)

Interrupt:11 Base address:0xc000

eth1 Link encap:Ethernet HWaddr 00:40:95:30:21:02

inet addr:192.168.0.1 Bcast:192.168.0.255 Mask:255.255.255.0

UP BROADCAST RUNNING MULTICAST MTU:1500 Metric:1

RX packets:66256 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0

TX packets:26804 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0

collisions:0 txqueuelen:1000

RX bytes:49074995 (46.8 Mb) TX bytes:3633595 (3.4 Mb)

Interrupt:5 Base address:0xe000

lo Link encap:Local Loopback

inet addr:127.0.0.1 Mask:255.0.0.0

UP LOOPBACK RUNNING MTU:16436 Metric:1

RX packets:0 errors:0 dropped:0 overruns:0 frame:0

TX packets:0 errors:0 dropped:0 overruns:0 carrier:0

collisions:0 txqueuelen:0

RX bytes:0 (0.0 b) TX bytes:0 (0.0 b)

root@qnoys:/#

Sekarang kita telah melihat (semoga anda melihatnya jika anda mencoba) bahwa ethernet card kita sekarang telah aktif, dan kita pun bisa mencoba ping ke Gateway, atau ping ke komputer yang sejaringan dengan ip yang ke internet xxx.xxx.xxx.yyy, atau coba ping pada jaringan localnya, yang terhubung ke ip 192.168.0.1, jika menandakan reply hasil ping, berarti ip yang kita set adalah benar, jika diisi dengan benar dan sesuai ketentuan, dengan aturan, komputer yang di pingpun hidup dan memiliki ip yang sejaringan,

Lanjut, kita isikan DNS 1 dan DNS 2 nya, supaya kita nantinya kita akan mencoba untuk ngebrowsing, filenya adalah, resolv.conf. yang terletak dibawah folder /etc/ dengan perintah,

root@qnoys:/# vi /etc/resolv.conf

makan kita akan mendapati isi dari file tersebut hanya beberapa baris yang isinya, search example.net, dan kita akan menambahkannya, dengan DNS kita dan kita akan melihatnya, seperti

search example.net

nameserver xxx.xxx.xxx.yyy

nameserver zzz.zzz.zzz.zzz

nameserver www.www.www.zzz

setelah melakukan pengeditan, lanjutkan dengan menyimpan file tersebut, kemudian eksekusi lagi dengan mengetikan /etc/rc.d/rc.inet1.

dan sekarang cobalah ping ke suatu domain, dengan catatan IP, gateway, dns1 dan dns 2 telah benar cara pengisiannya. J

cobalah melakukan ping ke yahoo.com dan lakukan juga browsing lewat console, dengan perintah links. Misalkan :

root@qnoys:/# links yahoo.com

sekarang kita coba restart komputer kita, dan selanjutnya coba login lagi ke dalam router, kemudian kita coba lagi ifconfig apakah masih terlihat setingan ethernet kita atau tidak,, jika iya berarti bagus, jika tidak,, silahkan aktifkan dulu module hotplug dengan mengetikkan pkgtool dan cari bagian Setup selanjutnya cari bagian hotplug untuk mendisable atau mengenablekan fasilitas hotplug, yang berguna mendeteksi otomatis hardware pada saat boot.

Kita akan mengarah sekarang untuk share fasilitas internet dan kita akan menjadikan mesin linux kita sebagai gateway,

Pertama sekali kita aktifkan dulu fasilitas ip_forward dengan menggunakan cara gampang. Atau bisa juga lewat mengetikan langsung perintahnya.

root@qnoys:/etc/rc.d# echo 1 > /proc/sys/net/ipv4/ip_forward

akan tetapi kebiasaan saya mengisikan langsung didalam file rc.local yang berada pada folder /etc/rc.d/ dengan isian sebagai berikut.

root@qnoys:/etc/rc.d# vi /etc/rc.d/rc.local

#!/bin/sh

#

# /etc/rc.d/rc.local: Local system initialization script.

#

# Put any local setup commands in here:

echo 1 > /proc/sys/net/ipv4/ip_forward

Dan save dengan perintah Esc: – wq lagi,

Sekarang kita buat sebuah file rc.nat yang akan kita letakkan pada folder /etc/rc.d/ dengan langsung kita ketikan perintahnya:

root@qnoys:/etc/rc.d# vi /etc/rc.d/rc.nat

trus kita isikan konfigurasi Nat dibawah ini, kedalam file rc.nat

iptables -t nat -A POSTROUTING -o eth0 -s 192.168.0.0/24 -j SNAT –to-source xxx.xxx.xxx.xxx

kemudian save.

Kita ubah sekarang file rc.nat ke file yang bisa di eksekusi, dengan perintah.

root@qnoys:/etc/rc.d# chmod +x /etc/rc.d/rc.nat

setelah file permitionnya diubah, selanjutnya kita masukkan ke dalam rc.local file rc.nat supaya bisa di eksekusi pada saat booting, dan kita letakkan dibawah perintah echo tadi:

root@qnoys:/etc/rc.d# vi /etc/rc.d/rc.local

#!/bin/sh

#

# /etc/rc.d/rc.local: Local system initialization script.

#

# Put any local setup commands in here:

echo 1 > /proc/sys/net/ipv4/ip_forward

/etc/rc.d/rc.nat

Kita save configurasi ini dan sekarang coba restart komputer routernya.

Coba login lagi, dan sekarang cek, apakah configurasi configurasi diatas masih ada atau tidak. Kalau ada yang hilang, silahkan cari permasalahannya. Kalau masih ada dan masih sama dengan configurasi semula, bahkan masih bisa ngebrowsing, sekarang coba kita test dari klient. Klient kita set ipnya selain ip eth1umpamanya, kita kasih ip client kita 192.168.0.2 dengan netmask yang disamakan 255.255.255.0 (sejaringan dengan eth1 router) gatewaynya ke ip router eth1 yaitu 192.168.0.1 kemudian. Isikan dns klient masing masing. 192.168.0.1 dan zzz.zzz.zzz.zzz atau www.www.www.zzz

Test ping dari klient ip router ether1 192.168.0.1, dilanjutkan ke ip router ether 0 xxx.xxx.xxx.xxx, selanjutnya ip gateway router yaitu xxx.xxx.xxx.yyy, ping zzz.zzz.zzz.zzz yaitu dns1 , ping dns 2 www.www.www.zzz . terakhir test ping ke yahoo.com ..

Kalau hasilnya reply, test browsing.

Seandainya bisa, dan saya yakin bisa karna saya mencobanya sendiri, selanjutnya terserah anda, ingin mengetahui lebih jauh apa apa yang bisa di aplikasikan ke router, silahkan baca lagi tutorial tutorial yang banyak di internet dunia maya,

Jikalau ada kata saya yang salah, tolong dimaafkan . maksud saya tulisan saya kalau ada yang salah, terlebih dahulu saya minta maaf, karna saya orang awam dan baru mengenal linux console, dan juga saya blom disekolahkan tentang ini, saya hanya sekedar baca baca dan praktek. Dengan otodidak ilmu saya masih banyak kekurangan. J semoga bermanfaat,

Posted in Uncategorized on Agustus 4, 2008 by wiznhu

dhcp-server

web server

Posted in Uncategorized on Agustus 4, 2008 by wiznhu

Copyrighted @ 3 TI 2 2008
Kelompok 4 dan  cooperation
Langkah-Langkah Pembuatan Web Server
• Pertama-tama masuk ke menu internet information service
• lalu setelah muncul jendela IIS klik kanan pada nama server lalu pilih new>website
Copyrighted @ 3 TI 2 2008
Kelompok 4 dan  cooperation
• Setelah muncul jendela welcome to the website creation wizard klik next untuk
melanjutkan
• lalu isikan deskripsi untuk nama web site anda dan klik next untuk melanjutkan.
Copyrighted @ 3 TI 2 2008
Kelompok 4 dan  cooperation
• Masukkan IP Address yang telah anda buat untuk web server anda, lalu klik next.
• Pada jendela website home directory meminta anda untuk memilih folder yang
digunakan untuk meletakan file-file web sute anda.
Copyrighted @ 3 TI 2 2008
Kelompok 4  cooperation
• Pada jendela web site creation wizard, pilih browse lalu klik next untuk melajutkan.
• Setelah itu selesailah pembuatan website, lalu klik finish.
Copyrighted @ 3 TI 2 2008
Kelompok 4  cooperation
• Pengkonfigurasian IIS, klik kanan pada sayda.com lalu pilih Configure Server Extensions.
• Lalu muncul jendela Welcome to the server extensions configuration wizard, lalu klik
next untuk melanjutkan.
Copyrighted @ 3 TI 2 2008
Kelompok 4  cooperation
• Lalu muncul jendela create windows Groups, klik next untuk melanjutkan.
• Lalu pada Jendela Access Control klik next.
Copyrighted @ 3 TI 2 2008
Kelompok 4 dan kelompok 5 cooperation
• Pada tampilan Mail server pilih “No,I’ll do it later”, lalu kllik next.
• Selesailah pengkonfigurasian IIS, klik Finish untuk mengakhiri.
Copyrighted @ 3 TI 2 2008
Kelompok 4  cooperation
• Pada Sayda.com klik kanan pilih properties.
• Setelah masuk kedalam sayda.com properties pilih menu Documents, pilih add.
Copyrighted @ 3 TI 1 2008
Kelompok 4 dan kelompok 5 cooperation
• Buat sebuah Document bernama Index.html klik ok, lalu pindahkan hingga posisi paling
atas.
• Setelah selesai pengkonfigurasian pada IIS lalu sekarang konfigurasi pada DNS, Pertamatama
buka aplikasi DNS setelah muncul klik kanan pada Forward Lookup Zone pilih New
Zone.
Copyrighted @ 3 TI 1 2008
Kelompok 4 dan kelompok 5 cooperation
• Pada tampilan welcome to New Zone Wizard, klik next untuk melanjutkan.
• Pada menu Zone type, pilih Standard Primary lalu klik next.
Copyrighted @ 3 TI 1 2008
Kelompok 4 dan kelompok 5 cooperation
• Pada Zone Name tuliskan nama untuk new Zone,lalu klik next.
• Pada jendela zone file, klik next.
Copyrighted @ 3 TI 1 2008
Kelompok 4 dan kelompok 5 cooperation
• Setelah selesai pembuatan New zone, klik finish untuk menyudahi.
• Pada tampilan jendela DNS, pilih sayda.com lalu klik kanan pilih new host.
Copyrighted @ 3 TI 1 2008
Kelompok 4 dan kelompok 5 cooperation
• Pada jendela new host ketikan WWW dan isikan IP Address yang sama pada saat
konfigurasi pada IIS, lalu add host.
• Untuk melihat apakah web server yang kita buat telah berjalan, buka jendela Internet
Exploler, lalu ketikan nama domain pada Address.
Copyrighted @ 3 TI 1 2008
Kelompok 4 dan kelompok 5 cooperation
• Untuk membuat user baru buka jendela Active Directory users and computers.
• Pada rudi.com pilih Users, lalu new user.
Copyrighted @ 3 TI 1 2008
Kelompok 4 dan kelompok 5 cooperation
• Pada jendela new Object isikan dengan kebutuhan, klik next untuk melanjutkan.
• Setelah itu pilih “User cannot change password”, lalu next.
Copyrighted @ 3 TI 1 2008
Kelompok 4 dan kelompok 5 cooperation
• Pada Browsers client, buka internet Exploler dan tuliskan nama domain server pada
Address, bila web server berhasil maka akan muncul tampilan seperti di bawah ini.

web server

Posted in Uncategorized on Juli 31, 2008 by wiznhu

.>>MEMBANGUN WEB SERVER PADA LAN Dg WINDOWS 2000 SERVER

A. Pendahuluan
Web atau istilah lengkapnya web site, juga sering disebut dengan home page adalah suatu halaman yang berisi sejumlah informasi yang dapat diakses dan dibaca melalui sistem jaringan dengan menggunakan program browser. Informasi yang dapat ditampilkan lewat web dapat berupa tulisan, gambar, dan bahkan audio visual pun bisa ditampilkan. Untuk contoh terakhir misalnya berita televisi liputan 6 dari SCTV bisa diakses dari internet dengan alamat www.liputan6.com.
Untuk memasang web agar bisa di baca oleh orang lain dari komputer lain didalam system jaringan, baik jaringan local (LAN) maupun jaringan berbasis luas (WAN dan Internet) maka memerlukan program yang dapat memberikan layanan web atau web server. Web server ada yang dibuat secara terpadu dengan program system operasi dan secara terpisah. Program web server ada banyak jenisnya, seperti apache, abbys, xitami dan IIS. Untuk program web server IIS sudah menjadi satu paket di dalam system operasi Windows 2000 server
.
B. Tujuan Teori
Tujuan penulisan ini adalah :
1. Menjelaskan prinsip kerja web server
2. Menjelaskan langkah – langkah konfigurasi web server (IIS)
3. Menjelasakan langkah – langkah konfigurasi web site properties.

C. Pembahasan
1. Prinsip kerja program web server
Prinsip kerja program web server adalah memberikan informasi yang diminta oleh komputer client dan melayani setiap permintaan yang datang dari manapun. Informasi akan dikirimkan oleh komputer server lalu akan diterima dan dibaca oleh komputer client melalui program browser. Urutan kerja web server adalah sbb :
- Komputer client mengetikan alamat komputer server missal,
www.movingcel.com dari program browser, seperti pada gambar 1.
Alamat Web
- Komputer server
www.movingcel.com akan memberikan informasi berupa halaman utama atau index.html yang akan dibaca dari komputer client.

- Komputer client memilih informasi yang diinginkan dengan menekan tombol link, misalnya pilihan harga, sehingga server akan memberikan tampilaninformasi yang diminta client.

- Komputer Server kemudian mengirimkan informasi yang di inginkan oleh client sehingga muncul dan dibaca di komputer client. Informasinya berupa daftar harga untuk tiap jenis voucer dan nominalnya,.
2. Langkah – langkah konfigurasi web Server
A. Mendefinisikan Web Site
1. Jalankan program Internet Service Manager yang telah terinstal di komputer server dengan cara klik tombol Star > Program > Administrative Tools > Internet Service Manager.
2. Dari tampilan program IIS, kemudian buat sebuah web site dengan langkah klik tombol action hingga muncul menu, lalu pilih New >>Web Site,
3. Kemudian muncul ucapan selamat datang pada program panduan (wizard) untuk membuat web site , lalu pilih tombol Next hingga muncul tampilan.Untuk bagian description isi nama web site yang akan kita buat, misalnya : movingcel.com lalu pilih next :

4. Selanjutnya pilih tombol next, hingga muncul tampilan menu untuk pemilihan IP Address dan nomor port untuk web site,
5. Pada langkah berikutnya pilih tombol Next, hingga muncul menu untuk memilih lokasi direktori tempat menyimpan data data web site.
dengan Lokasi direktori data web site di c:\inepub\wwwroot

6. Berikutnya pilih tombol Next, hingga muncul tampilan pengaturan hak akses web seperti . Pilih dengan memberi tanda centang. Saat ini kita pilih read, run script, excekute dan browse.
7. Selanjutnya pilih tombol Next, hingga muncul konfirmasi bahwa proses pembuatan web site secara terpandu sudah selesai, lalu tekan tombol finish untuk mengakhirinya
8. Setelah menekan tombol finish, maka akan kelihatan pada program IIS akan muncul nama web site yang dibuat dengan sejumlah file dan direktori yang ada.
B. Mengkonfigurasi Server Extensions
Setelah pendefinisian web site selesai, maka dilanjutkan dengan pengaturan konfigurasi server extension. Dengan langkah sebagai berikut :
1. Dari menu IIS, kemudian pilih dan klik tombol action >> All Tasks >> Configure Server Extension, hingga muncul tampilan Pengaturan server extension di IIS
2. Kemudian muncul tampilan selamat datang pada program server extension configurations,
3. Kemudian pilih Next, hingga muncul tampilan pembuatan kelompok windows seperti tampak 4. Pilih Next, hingga muncul menu pemilihan administrator sebagai orang yang punya hak pengelolaan web site,
5. Pilih Next, sehingga akan muncul tampilan untuk pengisian email server . Pada dialog ini kita pilih No, I’ll do it latter. Hal ini karena pada Windows 2000 server belum dilengkapi dengan program mail server. Sehingga untuk penggunaan email, perlu bantuan program yang lain.
6. Selanjutnya kita pilih Next, hingga muncul tampilan finish yang menginformasikan bahwa kegiatan konfigurasi server extension sudah selesai,

3. Mengkonfigurasi DNS (Domain Name Sytem ) Server
DNS merupakan suatu protocol yang berfungsi untuk menjembatani antara alamat jaringan dalam bentuk IP addres yang berupa angka – angka menjadi kata – kata yang mudah di ingat dan dapat menjadi identitas dari suatu lembaga. Dalam konfigurasi DNS Server ini terdiri dari dua kelompok, yaitu :
A. Mendefinisikan New Zone
1. Jalankan program DNS dengan cara pilih tombol Start >> Program >> Administrativ Tools >> DNS,
2. Buat New Zone dengan cara klik Action lalu pilih New,

3. Sehingga akan muncul tampilan ucapan selamat datang dalam pembuatan new zone seperti
(New Zone Wizard)

4. Pilih Next, hingga muncul tampilan pemilihan zone type lalu pilih standard primary
5. Pilih Next, hingga muncul tampilan pengisian nama zone yang mau dibuat. Ketik movingcel.com,
6. Pilih Next, hingga akan tampil nama file movingcel.com.dns sebagai tanda telah berhasil pembuatan zone baru movingcel.com,
7. Pilih Next, sehingga akan muncul informasi bahwa pembuatan zone baru secara terpandu telah selesai, lalu tekan tombol finish untuk mengakhiri proses pembuatan zone movingcel.com, 8. Setelah tombol finish ditekan, maka akan tampil jendela zone yang sudah dibuat movingcel.com

B. Mendefinisikan New Host
Dalam pendefinisian new host ini dimaksudkan agar alamat web menjadi komplit dari yang movingcel.com menjadi www.movingcel.com. Langkah langkah pembuatan new host adalah sebagai berikut :
1. Dari tampilan DNS kemudian cari nama web site yang sudah dibuat dalam zone create,
2. Dari tampilan DNS kemudian pilih tombol action atau pilih movingcel.com kemudian klik kanan hingga muncul menu pop up, lalu klik new host.
3. Pilihan pembuatan new host akan memunculkan menu new host seperti pada gambar 33.a lalu kit isi name : www dan ip address : 219.200.20.231f hx dmiyrl
4. Lalu pilih tombol Add Host lalu tekan tombol Done, sehingga jika proses pembuatan berhasil akan muncul tampilan yang memberikan informasi bahwa pembuatan new host telah sukses,
5. Kemudian muncul tampilan lanjutan pembuatan new host
6. Dengan menekan tombol done, maka akan muncul menu DNS dengan tambahan www pada bagian forward zone movingcel.com,

4. Melakukan pengaturan property web site
Pengaturan ini dimaksudkan agar setiap kita mengakses web site dengan mengetikan alamat
www.movingcel.com pada address bar program browser (internet explorer) maka server akan mengarahkan kita untuk membuka file index.html sebagai halaman utama web site tersebut. Langkah pengaturan web site sebagai berikut:
1. Masih dari program IIS, kemudian pilih nama web site yang ada : movingcel.com lalu pilih tombol action, hingga muncul menu pop up lalu klik tombol properties .
2. Pemilihan menu properties pada movingcel.com akan memunculkan dialog properties.
3. Pilih tab Documents untuk pembuatan file index.html dengan cara pilih tombol add lalu ketik nama file : inde.html pada kotak isian.

Pembuatan file index.html sudah berhasil, tampak pada gambar dengan posisi masih dibawah, sehingga perlu digeser keatas dengan menekan tombol naik di sebelah kiri nama file hingga berada paling atas seperti gambar .

5. Proses pengaturan web site : movingcel.com sudah selesai, lalu tekan tombol ok maka web site sudah dapat di jalankan dengan cara membuka program browser (internet explorer) dari komputer server dan komputer yang lain, lalu pada bagian address bar ketik : http://www.movingcel.com Jika mampu program browser mampu menampilkan halaman index.html, maka proses konfigurasi web server (IIS) dan DNS server telah berhasil. Jika belum maka ulangi langkah- langkah tersebut diatas dengan teliti dan hati – hati.

D. Kesimpulan
Dengan adanya program IIS sebagai web server, menjadikan Windows 2000 server dapat dijadikan web server yang dapat digunakan pada jaringan local (LAN) maupun jaringan dunia (internet). Sedangkan DNS Server mempunyai kemampuan untuk mengubah alamat yang berupa angka – angka IP addres yakni : 219.200.20.231 menjadi kata – kata yang mudah diingat, yakni : www.movingcel.com . Dengan demikian adanya kombinasi antara IIS dan DNS kita dapat menjadikan suatu komputer sebagai web server yang dapat digunakan untuk berbagai kepentingan, baik untuk pendidikan, administrasi pemerintahan maupun kegiatan bisnis yang bersifat local atau internasional.

Daftar Pustaka :
http://id.wikipedia.org/wiki/Web_server 18-Nov-07
Tutang (2002). “Membangun Jaringan Sendiri, Jaringan Komputer bagi Pemula “ Jakarta : Datakom.

0 Komentar:


_WidgetManager._Init(‘http://www.blogger.com/rearrange?blogID=36039439′, ‘http://langitcool.blogspot.com/2008/01/membangun-web-server-pada-lan-dg.html’,’36039439′);
_WidgetManager._SetPageActionUrl(‘http://www.blogger.com/display?blogID=36039439′, ‘P6Kz6pLBYfsNE8Yrl551SE047jU:1217487864492′);
_WidgetManager._SetDataContext([{'name': 'blog', 'data': {'title': '-:- Memberi banyak bertambah banyak -:-', 'pageType': 'item', 'url': 'http://langitcool.blogspot.com/2008/01/membangun-web-server-pada-lan-dg.html', 'homepageUrl': 'http://langitcool.blogspot.com/', 'pageName': '.\76\76MEMBANGUN WEB SERVER PADA LAN Dg WINDOWS 2000 SERVER', 'pageTitle': '-:- Memberi banyak bertambah banyak -:-: .\76\76MEMBANGUN WEB SERVER PADA LAN Dg WINDOWS 2000 SERVER', 'encoding': 'UTF-8', 'isPrivate': false, 'languageDirection': 'ltr', 'feedLinks': '\74link rel\75\42alternate\42 type\75\42application/atom+xml\42 title\75\42-:- Memberi banyak bertambah banyak -:- - Atom\42 href\75\42http://langitcool.blogspot.com/feeds/posts/default\42 /\76\n\74link rel\75\42alternate\42 type\75\42application/rss+xml\42 title\75\42-:- Memberi banyak bertambah banyak -:- - RSS\42 href\75\42http://langitcool.blogspot.com/feeds/posts/default?alt\75rss\42 /\76\n\74link rel\75\42service.post\42 type\75\42application/atom+xml\42 title\75\42-:- Memberi banyak bertambah banyak -:- - Atom\42 href\75\42http://www.blogger.com/feeds/36039439/posts/default\42 /\76\n\74link rel\75\42EditURI\42 type\75\42application/rsd+xml\42 title\75\42RSD\42 href\75\42http://www.blogger.com/rsd.g?blogID7536039439\42 /\76\n\74link rel\75\42alternate\42 type\75\42application/atom+xml\42 title\75\42-:- Memberi banyak bertambah banyak -:- - Atom\42 href\75\42http://langitcool.blogspot.com/feeds/1750748732496501597/comments/default\42 /\76\n', 'meTag': '', 'openIdOpTag': ''}}]);
_WidgetManager._SetSystemMarkup({‘layout’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74div class\75\47widget-wrap1\47\76\n\74div class\75\47widget-wrap2\47\76\n\74div class\75\47widget-wrap3\47\76\n\74div class\75\47widget-content\47\76\n\74div class\75\47layout-title\47\76\74data:layout-title\76\74/data:layout-title\76\74/div\76\n\74a class\75\47editlink\47 expr:href\75\47data:widget.quickEditUrl\47 expr:onclick\75\47\46quot;return _WidgetManager._PopupConfig(document.getElementById(\\\46quot;\46quot; + data:widget.instanceId + \46quot;\\\46quot;));\46quot;\47 target\75\47chooseWidget\47\76\74data:edit-link\76\74/data:edit-link\76\74/a\76\n\74/div\76\n\74/div\76\n\74/div\76\n\74/div76′}, ‘quickedit’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74div class\75\47clear\47\76\74/div\76\n\74span class\75\47widget-item-control\47\76\n\74span class\75\47item-control blog-admin\47\76\n\74a class\75\47quickedit\47 expr:href\75\47data:widget.quickEditUrl\47 expr:onclick\75\47\46quot;return _WidgetManager._PopupConfig(document.getElementById(\\\46quot;\46quot; + data:widget.instanceId + \46quot;\\\46quot;));\46quot;\47 expr:target\75\47\46quot;config\46quot; + data:widget.instanceId\47 expr:title\75\47data:edit-link\47\76\n\74img alt\75\47\47 src\75\47http://img1.blogblog.com/img/icon18_wrench_allbkg.png\47/\76\n\74/a\76\n\74/span\76\n\74/span\76\n\74div class\75\47clear\47\76\74/div76′}, ‘all-head-content’: {‘varName’: ‘page’, ‘template’: ‘\74meta expr:content\75\47\46quot;text/html; charset\75\46quot; + data:page.encoding\47 http-equiv\75\47Content-Type\47/\76\n\74meta content\75\47true\47 name\75\47MSSmartTagsPreventParsing\47/\76\n\74meta content\75\47blogger\47 name\75\47generator\47/\76\n\74data:blog.feedLinks\76\74/data:blog.feedLinks\76\n\74data:blog.meTag\76\74/data:blog.meTag\76\n\74data:blog.openIdOpTag\76\74/data:blog.openIdOpTag\76\n\74b:if cond\75\47data:page.isPrivate\47\76\n\74meta content\75\47NOINDEX,NOFOLLOW\47 name\75\47robots\47/\76\n\74/b:if76′}});
_WidgetManager._RegisterWidget(‘_TextView’, new _WidgetInfo(‘Text1′, ‘footer’,{‘main’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:title !\75 \46quot;\46quot;\47\76\n\74h2 class\75\47title\47\76\74data:title\76\74/data:title\76\74/h2\76\n\74/b:if\76\n\74div class\75\47widget-content\47\76\n\74data:content\76\74/data:content\76\n\74/div\76\n\74b:include name\75\47quickedit\47\76\74/b:include76′}}, document.getElementById(‘Text1′), {}, ‘displayModeFull’));
_WidgetManager._RegisterWidget(‘_ImageView’, new _WidgetInfo(‘Image1′, ‘sidebar’,{‘main’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:title !\75 \46quot;\46quot;\47\76\n\74h2\76\74data:title\76\74/data:title\76\74/h2\76\n\74/b:if\76\n\74div class\75\47widget-content\47\76\n\74b:if cond\75\47data:link !\75 \46quot;\46quot;\47\76\n\74a expr:href\75\47data:link\47\76\n\74img expr:alt\75\47data:title\47 expr:height\75\47data:height\47 expr:id\75\47data:widget.instanceId + \46quot;_img\46quot;\47 expr:src\75\47data:sourceUrl\47 expr:width\75\47data:width\47/\76\n\74/a\76\n\74b:else\76\74/b:else\76\n\74img expr:alt\75\47data:title\47 expr:height\75\47data:height\47 expr:id\75\47data:widget.instanceId + \46quot;_img\46quot;\47 expr:src\75\47data:sourceUrl\47 expr:width\75\47data:width\47/\76\n\74/b:if\76\n\74br/\76\n\74b:if cond\75\47data:caption !\75 \46quot;\46quot;\47\76\n\74span class\75\47caption\47\76\74data:caption\76\74/data:caption\76\74/span\76\n\74/b:if\76\n\74/div\76\n\74b:include name\75\47quickedit\47\76\74/b:include76′}}, document.getElementById(‘Image1′), {‘resize’: true}, ‘displayModeFull’));
_WidgetManager._RegisterWidget(‘_HTMLView’, new _WidgetInfo(‘HTML2′, ‘sidebar’,{‘main’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:title !\75 \46quot;\46quot;\47\76\n\74h2 class\75\47title\47\76\74data:title\76\74/data:title\76\74/h2\76\n\74/b:if\76\n\74div class\75\47widget-content\47\76\n\74data:content\76\74/data:content\76\n\74/div\76\n\74b:include name\75\47quickedit\47\76\74/b:include76′}}, document.getElementById(‘HTML2′), {}, ‘displayModeFull’));
_WidgetManager._RegisterWidget(‘_TextView’, new _WidgetInfo(‘Text2′, ‘sidebar’,{‘main’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:title !\75 \46quot;\46quot;\47\76\n\74h2 class\75\47title\47\76\74data:title\76\74/data:title\76\74/h2\76\n\74/b:if\76\n\74div class\75\47widget-content\47\76\n\74data:content\76\74/data:content\76\n\74/div\76\n\74b:include name\75\47quickedit\47\76\74/b:include76′}}, document.getElementById(‘Text2′), {}, ‘displayModeFull’));
_WidgetManager._RegisterWidget(‘_BlogArchiveView’, new _WidgetInfo(‘BlogArchive1′, ‘sidebar’,{‘main’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:title\47\76\n\74h2\76\74data:title\76\74/data:title\76\74/h2\76\n\74/b:if\76\n\74div class\75\47widget-content\47\76\n\74div id\75\47ArchiveList\47\76\n\74div expr:id\75\47data:widget.instanceId + \46quot;_ArchiveList\46quot;\47\76\n\74b:if cond\75\47data:style \75\75 \46quot;HIERARCHY\46quot;\47\76\n\74b:include data\75\47data\47 name\75\47interval\47\76\74/b:include\76\n\74/b:if\76\n\74b:if cond\75\47data:style \75\75 \46quot;FLAT\46quot;\47\76\n\74b:include data\75\47data\47 name\75\47flat\47\76\74/b:include\76\n\74/b:if\76\n\74b:if cond\75\47data:style \75\75 \46quot;MENU\46quot;\47\76\n\74b:include data\75\47data\47 name\75\47menu\47\76\74/b:include\76\n\74/b:if\76\n\74/div\76\n\74/div\76\n\74b:include name\75\47quickedit\47\76\74/b:include\76\n\74/div76′}, ‘flat’: {‘varName’: ‘data’, ‘template’: ‘\74ul\76\n\74b:loop values\75\47data:data\47 var\75\47i\47\76\n\74li class\75\47archivedate\47\76\n\74a expr:href\75\47data:i.url\47\76\74data:i.name\76\74/data:i.name\76\74/a\76 (\74data:i.post-count\76\74/data:i.post-count\76)\n \74/li\76\n\74/b:loop\76\n\74/ul76′}, ‘menu’: {‘varName’: ‘data’, ‘template’: ‘\74select expr:id\75\47data:widget.instanceId + \46quot;_ArchiveMenu\46quot;\47\76\n\74option value\75\47\47\76\74data:title\76\74/data:title\76\74/option\76\n\74b:loop values\75\47data:data\47 var\75\47i\47\76\n\74option expr:value\75\47data:i.url\47\76\74data:i.name\76\74/data:i.name\76 (\74data:i.post-count\76\74/data:i.post-count\76)\74/option\76\n\74/b:loop\76\n\74/select76′}, ‘interval’: {‘varName’: ‘intervalData’, ‘template’: ‘\74b:loop values\75\47data:intervalData\47 var\75\47i\47\76\n\74ul\76\n\74li expr:class\75\47\46quot;archivedate \46quot; + data:i.expclass\47\76\n\74b:include data\75\47i\47 name\75\47toggle\47\76\74/b:include\76\n\74a class\75\47post-count-link\47 expr:href\75\47data:i.url\47\76\74data:i.name\76\74/data:i.name\76\74/a\76\n\74span class\75\47post-count\47 dir\75\47ltr\47\76(\74data:i.post-count\76\74/data:i.post-count\76)\74/span\76\n\74b:if cond\75\47data:i.data\47\76\n\74b:include data\75\47i.data\47 name\75\47interval\47\76\74/b:include\76\n\74/b:if\76\n\74b:if cond\75\47data:i.posts\47\76\n\74b:include data\75\47i.posts\47 name\75\47posts\47\76\74/b:include\76\n\74/b:if\76\n\74/li\76\n\74/ul\76\n\74/b:loop76′}, ‘toggle’: {‘varName’: ‘interval’, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:interval.toggleId\47\76\n\74b:if cond\75\47data:interval.expclass \75\75 \46quot;expanded\46quot;\47\76\n\74a class\75\47toggle\47 expr:href\75\47data:widget.actionUrl + \46quot;\46amp;action\75toggle\46quot; + \46quot;\46amp;dir\75close\46amp;toggle\75\46quot; + data:interval.toggleId + \46quot;\46amp;toggleopen\75\46quot; + data:toggleopen\47\76\n\74span class\75\47zippy toggle-open\47\76\46#9660; \74/span\76\n\74/a\76\n\74b:else\76\74/b:else\76\n\74a class\75\47toggle\47 expr:href\75\47data:widget.actionUrl + \46quot;\46amp;action\75toggle\46quot; + \46quot;\46amp;dir\75open\46amp;toggle\75\46quot; + data:interval.toggleId + \46quot;\46amp;toggleopen\75\46quot; + data:toggleopen\47\76\n\74span class\75\47zippy\47\76\n\74b:if cond\75\47data:blog.languageDirection \75\75 \46quot;rtl\46quot;\47\76\n \46#9668;\n \74b:else\76\74/b:else\76\n \46#9658;\n \74/b:if\76\n\74/span\76\n\74/a\76\n\74/b:if\76\n\74/b:if76′}, ‘posts’: {‘varName’: ‘posts’, ‘template’: ‘\74ul class\75\47posts\47\76\n\74b:loop values\75\47data:posts\47 var\75\47i\47\76\n\74li\76\74a expr:href\75\47data:i.url\47\76\74data:i.title\76\74/data:i.title\76\74/a\76\74/li\76\n\74/b:loop\76\n\74/ul76′}}, document.getElementById(‘BlogArchive1′), {‘languageDirection’: ‘ltr’}, ‘displayModeFull’));
_WidgetManager._RegisterWidget(‘_ProfileView’, new _WidgetInfo(‘Profile1′, ‘sidebar’,{‘main’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:title !\75 \46quot;\46quot;\47\76\n\74h2\76\74data:title\76\74/data:title\76\74/h2\76\n\74/b:if\76\n\74div class\75\47widget-content\47\76\n\74b:if cond\75\47data:team \75\75 \46quot;true\46quot;\47\76\n\74ul\76\n\74b:loop values\75\47data:authors\47 var\75\47i\47\76\n\74li\76\74a expr:href\75\47data:i.userUrl\47\76\74data:i.display-name\76\74/data:i.display-name\76\74/a\76\74/li\76\n\74/b:loop\76\n\74/ul\76\n\74b:else\76\74/b:else\76\n\74b:if cond\75\47data:photo.url !\75 \46quot;\46quot;\47\76\n\74a expr:href\75\47data:userUrl\47\76\74img class\75\47profile-img\47 expr:alt\75\47data:photo.alt\47 expr:height\75\47data:photo.height\47 expr:src\75\47data:photo.url\47 expr:width\75\47data:photo.width\47/\76\74/a\76\n\74/b:if\76\n\74dl class\75\47profile-datablock\47\76\n\74dt class\75\47profile-data\47\76\74data:displayname\76\74/data:displayname\76\74/dt\76\n\74b:if cond\75\47data:showlocation \75\75 \46quot;true\46quot;\47\76\n\74dd class\75\47profile-data\47\76\74data:location\76\74/data:location\76\74/dd\76\n\74/b:if\76\n\74b:if cond\75\47data:aboutme !\75 \46quot;\46quot;\47\76\74dd class\75\47profile-textblock\47\76\74data:aboutme\76\74/data:aboutme\76\74/dd\76\74/b:if\76\n\74/dl\76\n\74a class\75\47profile-link\47 expr:href\75\47data:userUrl\47\76\74data:viewProfileMsg\76\74/data:viewProfileMsg\76\74/a\76\n\74/b:if\76\n\74b:include name\75\47quickedit\47\76\74/b:include\76\n\74/div76′}}, document.getElementById(‘Profile1′), {}, ‘displayModeFull’));
_WidgetManager._RegisterWidget(‘_HTMLView’, new _WidgetInfo(‘HTML1′, ‘sidebar’,{‘main’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:title !\75 \46quot;\46quot;\47\76\n\74h2 class\75\47title\47\76\74data:title\76\74/data:title\76\74/h2\76\n\74/b:if\76\n\74div class\75\47widget-content\47\76\n\74data:content\76\74/data:content\76\n\74/div\76\n\74b:include name\75\47quickedit\47\76\74/b:include76′}}, document.getElementById(‘HTML1′), {}, ‘displayModeFull’));
_WidgetManager._RegisterWidget(‘_HeaderView’, new _WidgetInfo(‘Header1′, ‘header’));
_WidgetManager._RegisterWidget(‘_NavbarView’, new _WidgetInfo(‘Navbar1′, ‘navbar’));
_WidgetManager._RegisterWidget(‘_BlogView’, new _WidgetInfo(‘Blog1′, ‘main’,{‘main’: {‘varName’: ‘top’, ‘template’: ‘\74div class\75\47blog-posts hfeed\47\76\n\74b:include data\75\47top\47 name\75\47status-message\47\76\74/b:include\76\n\74data:adStart\76\74/data:adStart\76\n\74b:loop values\75\47data:posts\47 var\75\47post\47\76\n\74b:if cond\75\47data:post.dateHeader\47\76\n\74h2 class\75\47date-header\47\76\74data:post.dateHeader\76\74/data:post.dateHeader\76\74/h2\76\n\74/b:if\76\n\74b:include data\75\47post\47 name\75\47post\47\76\74/b:include\76\n\74b:if cond\75\47data:blog.pageType \75\75 \46quot;item\46quot;\47\76\n\74b:include data\75\47post\47 name\75\47comments\47\76\74/b:include\76\n\74/b:if\76\n\74b:if cond\75\47data:post.includeAd\47\76\n\74data:adEnd\76\74/data:adEnd\76\n\74data:adCode\76\74/data:adCode\76\n\74data:adStart\76\74/data:adStart\76\n\74/b:if\76\n\74/b:loop\76\n\74data:adEnd\76\74/data:adEnd\76\n\74/div\76\n\74b:include name\75\47nextprev\47\76\74/b:include\76\n\74b:include name\75\47feedLinks\47\76\74/b:include\76\n\74b:if cond\75\47data:top.showStars\47\76\n\74script src\75\47http://www.google.com/jsapi\47 type\75\47text/javascript\47\76\74/script\76\n\74script type\75\47text/javascript\47\76\n google.load(\46quot;annotations\46quot;, \46quot;1\46quot;, {\46quot;locale\46quot;: \46quot;\74data:top.languageCode\76\74/data:top.languageCode\76\46quot;});\n function initialize() {\n google.annotations.setApplicationId(\74data:top.blogspotReviews\76\74/data:top.blogspotReviews\76);\n google.annotations.createAll();\n google.annotations.fetch();\n }\n google.setOnLoadCallback(initialize);\n \74/script\76\n\74/b:if76′}, ‘nextprev’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74div class\75\47blog-pager\47 id\75\47blog-pager\47\76\n\74b:if cond\75\47data:newerPageUrl\47\76\n\74span id\75\47blog-pager-newer-link\47\76\n\74a class\75\47blog-pager-newer-link\47 expr:href\75\47data:newerPageUrl\47 expr:id\75\47data:widget.instanceId + \46quot;_blog-pager-newer-link\46quot;\47 expr:title\75\47data:newerPageTitle\47\76\74data:newerPageTitle\76\74/data:newerPageTitle\76\74/a\76\n\74/span\76\n\74/b:if\76\n\74b:if cond\75\47data:olderPageUrl\47\76\n\74span id\75\47blog-pager-older-link\47\76\n\74a class\75\47blog-pager-older-link\47 expr:href\75\47data:olderPageUrl\47 expr:id\75\47data:widget.instanceId + \46quot;_blog-pager-older-link\46quot;\47 expr:title\75\47data:olderPageTitle\47\76\74data:olderPageTitle\76\74/data:olderPageTitle\76\74/a\76\n\74/span\76\n\74/b:if\76\n\74b:if cond\75\47data:blog.homepageUrl !\75 data:blog.url\47\76\n\74a class\75\47home-link\47 expr:href\75\47data:blog.homepageUrl\47\76\74data:homeMsg\76\74/data:homeMsg\76\74/a\76\n\74b:else\76\74/b:else\76\n\74b:if cond\75\47data:newerPageUrl\47\76\n\74a class\75\47home-link\47 expr:href\75\47data:blog.homepageUrl\47\76\74data:homeMsg\76\74/data:homeMsg\76\74/a\76\n\74/b:if\76\n\74/b:if\76\n\74/div\76\n\74div class\75\47clear\47\76\74/div76′}, ‘post’: {‘varName’: ‘post’, ‘template’: ‘\74div class\75\47post hentry\47\76\n\74a expr:name\75\47data:post.id\47\76\74/a\76\n\74b:if cond\75\47data:post.title\47\76\n\74h3 class\75\47post-title entry-title\47\76\n\74b:if cond\75\47data:post.link\47\76\n\74a expr:href\75\47data:post.link\47\76\74data:post.title\76\74/data:post.title\76\74/a\76\n\74b:else\76\74/b:else\76\n\74b:if cond\75\47data:post.url\47\76\n\74a expr:href\75\47data:post.url\47\76\74data:post.title\76\74/data:post.title\76\74/a\76\n\74b:else\76\74/b:else\76\n\74data:post.title\76\74/data:post.title\76\n\74/b:if\76\n\74/b:if\76\n\74/h3\76\n\74/b:if\76\n\74div class\75\47post-header-line-1\47\76\74/div\76\n\74div class\75\47post-body entry-content\47\76\n\74data:post.body\76\74/data:post.body\76\n\74div style\75\47clear: both;\47\76\74/div\76\n\74/div\76\n\74div class\75\47post-footer\47\76\n\74div class\75\47post-footer-line post-footer-line-1\47\76\74span class\75\47post-author vcard\47\76\n\74b:if cond\75\47data:top.showAuthor\47\76\n\74data:top.authorLabel\76\74/data:top.authorLabel\76\n\74span class\75\47fn\47\76\74data:post.author\76\74/data:post.author\76\74/span\76\n\74/b:if\76\n\74/span\76\n\74span class\75\47post-timestamp\47\76\n\74b:if cond\75\47data:top.showTimestamp\47\76\n\74data:top.timestampLabel\76\74/data:top.timestampLabel\76\n\74b:if cond\75\47data:post.url\47\76\n\74a class\75\47timestamp-link\47 expr:href\75\47data:post.url\47 rel\75\47bookmark\47 title\75\47permanent link\47\76\74abbr class\75\47published\47 expr:title\75\47data:post.timestampISO8601\47\76\74data:post.timestamp\76\74/data:post.timestamp\76\74/abbr\76\74/a\76\n\74/b:if\76\n\74/b:if\76\n\74/span\76\n\74span class\75\47post-comment-link\47\76\n\74b:if cond\75\47data:blog.pageType !\75 \46quot;item\46quot;\47\76\n\74b:if cond\75\47data:post.allowComments\47\76\n\74a class\75\47comment-link\47 expr:href\75\47data:post.addCommentUrl\47 expr:onclick\75\47data:post.addCommentOnclick\47\76\74b:if cond\75\47data:post.numComments \75\75 1\47761 \74data:top.commentLabel\76\74/data:top.commentLabel\76\74b:else\76\74/b:else\76\74data:post.numComments\76\74/data:post.numComments\76\n\74data:top.commentLabelPlural\76\74/data:top.commentLabelPlural\76\74/b:if\76\74/a\76\n\74/b:if\76\n\74/b:if\76\n\74/span\76\n\74span class\75\47post-icons\47\76\n\74b:if cond\75\47data:post.emailPostUrl\47\76\n\74span class\75\47item-action\47\76\n\74a expr:href\75\47data:post.emailPostUrl\47 expr:title\75\47data:top.emailPostMsg\47\76\n\74img alt\75\47\47 class\75\47icon-action\47 src\75\47http://www.blogger.com/img/icon18_email.gif\47/\76\n\74/a\76\n\74/span\76\n\74/b:if\76\n\74b:include data\75\47post\47 name\75\47postQuickEdit\47\76\74/b:include\76\n\74/span\76\n\74/div\76\n\74div class\75\47post-footer-line post-footer-line-2\47\76\74span class\75\47post-labels\47\76\n\74b:if cond\75\47data:post.labels\47\76\n\74data:postLabelsLabel\76\74/data:postLabelsLabel\76\n\74b:loop values\75\47data:post.labels\47 var\75\47label\47\76\n\74a expr:href\75\47data:label.url\47 rel\75\47tag\47\76\74data:label.name\76\74/data:label.name\76\74/a\76\74b:if cond\75\47data:label.isLast !\75 \46quot;true\46quot;\47\76,\74/b:if\76\n\74/b:loop\76\n\74/b:if\76\n\74/span\76\n\74/div\76\n\74div class\75\47post-footer-line post-footer-line-3\47\76\74/div\76\n\74/div\76\n\74/div76′}, ‘postQuickEdit’: {‘varName’: ‘post’, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:post.editUrl\47\76\n\74span expr:class\75\47\46quot;item-control \46quot; + data:post.adminClass\47\76\n\74a expr:href\75\47data:post.editUrl\47 expr:title\75\47data:top.editPostMsg\47\76\n\74img alt\75\47\47 class\75\47icon-action\47 src\75\47http://www.blogger.com/img/icon18_edit_allbkg.gif\47/\76\n\74/a\76\n\74/span\76\n\74/b:if76′}, ‘commentDeleteIcon’: {‘varName’: ‘comment’, ‘template’: ‘\74span expr:class\75\47\46quot;item-control \46quot; + data:comment.adminClass\47\76\n\74a expr:href\75\47data:comment.deleteUrl\47 expr:title\75\47data:top.deleteCommentMsg\47\76\n\74img src\75\47http://www.blogger.com/img/icon_delete13.gif\47/\76\n\74/a\76\n\74/span76′}, ‘backlinkDeleteIcon’: {‘varName’: ‘backlink’, ‘template’: ‘\74span expr:class\75\47\46quot;item-control \46quot; + data:backlink.adminClass\47\76\n\74a expr:href\75\47data:backlink.deleteUrl\47 expr:title\75\47data:top.deleteBacklinkMsg\47\76\n\74img src\75\47http://www.blogger.com/img/icon_delete13.gif\47/\76\n\74/a\76\n\74/span76′}, ‘comments’: {‘varName’: ‘post’, ‘template’: ‘\74div class\75\47comments\47 id\75\47comments\47\76\n\74a name\75\47comments\47\76\74/a\76\n\74b:if cond\75\47data:post.allowComments\47\76\n\74h4\76\n\74b:if cond\75\47data:post.numComments \75\75 1\47\76\n 1 \74data:commentLabel\76\74/data:commentLabel\76:\n \74b:else\76\74/b:else\76\n\74data:post.numComments\76\74/data:post.numComments\76\n\74data:commentLabelPlural\76\74/data:commentLabelPlural\76:\n \74/b:if\76\n\74/h4\76\n\74b:if cond\75\47data:post.commentPagingRequired\47\76\n\74span class\75\47paging-control-container\47\76\n\74a expr:class\75\47data:post.oldLinkClass\47 expr:href\75\47data:post.oldestLinkUrl\47\76\74data:post.oldestLinkText\76\74/data:post.oldestLinkText\76\74/a\76\n \46#160;\n \74a expr:class\75\47data:post.oldLinkClass\47 expr:href\75\47data:post.olderLinkUrl\47\76\74data:post.olderLinkText\76\74/data:post.olderLinkText\76\74/a\76\n \46#160;\n \74data:post.commentRangeText\76\74/data:post.commentRangeText\76\n \46#160;\n \74a expr:class\75\47data:post.newLinkClass\47 expr:href\75\47data:post.newerLinkUrl\47\76\74data:post.newerLinkText\76\74/data:post.newerLinkText\76\74/a\76\n \46#160;\n \74a expr:class\75\47data:post.newLinkClass\47 expr:href\75\47data:post.newestLinkUrl\47\76\74data:post.newestLinkText\76\74/data:post.newestLinkText\76\74/a\76\n\74/span\76\n\74/b:if\76\n\74dl id\75\47comments-block\47\76\n\74b:loop values\75\47data:post.comments\47 var\75\47comment\47\76\n\74dt expr:class\75\47\46quot;comment-author \46quot; + data:comment.authorClass\47 expr:id\75\47data:comment.anchorName\47\76\n\74a expr:name\75\47data:comment.anchorName\47\76\74/a\76\n\74b:if cond\75\47data:comment.authorUrl\47\76\n\74a expr:href\75\47data:comment.authorUrl\47 rel\75\47nofollow\47\76\74data:comment.author\76\74/data:comment.author\76\74/a\76\n\74b:else\76\74/b:else\76\n\74data:comment.author\76\74/data:comment.author\76\n\74/b:if\76\n\74data:commentPostedByMsg\76\74/data:commentPostedByMsg\76\n\74/dt\76\n\74dd class\75\47comment-body\47\76\n\74b:if cond\75\47data:comment.isDeleted\47\76\n\74span class\75\47deleted-comment\47\76\74data:comment.body\76\74/data:comment.body\76\74/span\76\n\74b:else\76\74/b:else\76\n\74p\76\74data:comment.body\76\74/data:comment.body\76\74/p\76\n\74/b:if\76\n\74/dd\76\n\74dd class\75\47comment-footer\47\76\n\74span class\75\47comment-timestamp\47\76\n\74a expr:href\75\47data:comment.url\47 title\75\47comment permalink\47\76\n\74data:comment.timestamp\76\74/data:comment.timestamp\76\n\74/a\76\n\74b:include data\75\47comment\47 name\75\47commentDeleteIcon\47\76\74/b:include\76\n\74/span\76\n\74/dd\76\n\74/b:loop\76\n\74/dl\76\n\74b:if cond\75\47data:post.commentPagingRequired\47\76\n\74span class\75\47paging-control-container\47\76\n\74a expr:class\75\47data:post.oldLinkClass\47 expr:href\75\47data:post.oldestLinkUrl\47\76\n\74data:post.oldestLinkText\76\74/data:post.oldestLinkText\76\n\74/a\76\n\74a expr:class\75\47data:post.oldLinkClass\47 expr:href\75\47data:post.olderLinkUrl\47\76\n\74data:post.olderLinkText\76\74/data:post.olderLinkText\76\n\74/a\76\n \46#160;\n \74data:post.commentRangeText\76\74/data:post.commentRangeText\76\n \46#160;\n \74a expr:class\75\47data:post.newLinkClass\47 expr:href\75\47data:post.newerLinkUrl\47\76\n\74data:post.newerLinkText\76\74/data:post.newerLinkText\76\n\74/a\76\n\74a expr:class\75\47data:post.newLinkClass\47 expr:href\75\47data:post.newestLinkUrl\47\76\n\74data:post.newestLinkText\76\74/data:post.newestLinkText\76\n\74/a\76\n\74/span\76\n\74/b:if\76\n\74p class\75\47comment-footer\47\76\n\74b:if cond\75\47data:post.embedCommentForm\47\76\n\74b:include data\75\47post\47 name\75\47comment-form\47\76\74/b:include\76\n\74b:else\76\74/b:else\76\n\74b:if cond\75\47data:post.allowComments\47\76\n\74a expr:href\75\47data:post.addCommentUrl\47 expr:onclick\75\47data:post.addCommentOnclick\47\76\74data:postCommentMsg\76\74/data:postCommentMsg\76\74/a\76\n\74/b:if\76\n\74/b:if\76\n\74/p\76\n\74/b:if\76\n\74div id\75\47backlinks-container\47\76\n\74div expr:id\75\47data:widget.instanceId + \46quot;_backlinks-container\46quot;\47\76\n\74b:if cond\75\47data:post.showBacklinks\47\76\n\74b:include data\75\47post\47 name\75\47backlinks\47\76\74/b:include\76\n\74/b:if\76\n\74/div\76\n\74/div\76\n\74/div76′}, ‘comment-form’: {‘varName’: ‘post’, ‘template’: ‘\74div class\75\47comment-form\47\76\n\74a name\75\47comment-form\47\76\74/a\76\n\74h3\76\74data:postCommentMsg\76\74/data:postCommentMsg\76\74/h3\76\n\74p\76\74data:blogCommentMessage\76\74/data:blogCommentMessage\76\74/p\76\n\74iframe allowtransparency\75\47true\47 expr:src\75\47data:post.commentFormIframeSrc\47 frameborder\75470\47 height\7547275\47 id\75\47comment-editor\47 scrolling\75\47auto\47 width\7547100%\47\76\74/iframe\76\n\74/div76′}, ‘backlinks’: {‘varName’: ‘post’, ‘template’: ‘\74a name\75\47links\47\76\74/a\76\74h4\76\74data:post.backlinksLabel\76\74/data:post.backlinksLabel\76\74/h4\76\n\74b:if cond\75\47data:post.numBacklinks !\75 0\47\76\n\74dl class\75\47comments-block\47 id\75\47comments-block\47\76\n\74b:loop values\75\47data:post.backlinks\47 var\75\47backlink\47\76\n\74div class\75\47collapsed-backlink backlink-control\47\76\n\74dt class\75\47comment-title\47\76\n\74span class\75\47backlink-toggle-zippy\47\76\46#160;\74/span\76\n\74a expr:href\75\47data:backlink.url\47 rel\75\47nofollow\47\76\74data:backlink.title\76\74/data:backlink.title\76\74/a\76\n\74b:include data\75\47backlink\47 name\75\47backlinkDeleteIcon\47\76\74/b:include\76\n\74/dt\76\n\74dd class\75\47comment-body collapseable\47\76\n\74data:backlink.snippet\76\74/data:backlink.snippet\76\n\74/dd\76\n\74dd class\75\47comment-footer collapseable\47\76\n\74span class\75\47comment-author\47\76\74data:post.authorLabel\76\74/data:post.authorLabel\76\n\74data:backlink.author\76\74/data:backlink.author\76\74/span\76\n\74span class\75\47comment-timestamp\47\76\74data:post.timestampLabel\76\74/data:post.timestampLabel\76\n\74data:backlink.timestamp\76\74/data:backlink.timestamp\76\74/span\76\n\74/dd\76\n\74/div\76\n\74/b:loop\76\n\74/dl\76\n\74/b:if\76\n\74p class\75\47comment-footer\47\76\n\74a class\75\47comment-link\47 expr:href\75\47data:post.createLinkUrl\47 expr:id\75\47data:widget.instanceId + \46quot;_backlinks-create-link\46quot;\47 target\75\47_blank\47\76\74data:post.createLinkLabel\76\74/data:post.createLinkLabel\76\74/a\76\n\74/p76′}, ‘feedLinks’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:blog.pageType !\75 \46quot;item\46quot;\47\76\n\74b:if cond\75\47data:feedLinks\47\76\n\74div class\75\47blog-feeds\47\76\n\74b:include data\75\47feedLinks\47 name\75\47feedLinksBody\47\76\74/b:include\76\n\74/div\76\n\74/b:if\76\n\74b:else\76\74/b:else\76\n\74div class\75\47post-feeds\47\76\n\74b:loop values\75\47data:posts\47 var\75\47post\47\76\n\74b:if cond\75\47data:post.allowComments\47\76\n\74b:if cond\75\47data:post.feedLinks\47\76\n\74b:include data\75\47post.feedLinks\47 name\75\47feedLinksBody\47\76\74/b:include\76\n\74/b:if\76\n\74/b:if\76\n\74/b:loop\76\n\74/div\76\n\74/b:if76′}, ‘feedLinksBody’: {‘varName’: ‘links’, ‘template’: ‘\74div class\75\47feed-links\47\76\n\74data:feedLinksMsg\76\74/data:feedLinksMsg\76\n\74b:loop values\75\47data:links\47 var\75\47f\47\76\n\74a class\75\47feed-link\47 expr:href\75\47data:f.url\47 expr:type\75\47data:f.mimeType\47 target\75\47_blank\47\76\74data:f.name\76\74/data:f.name\76 (\74data:f.feedType\76\74/data:f.feedType\76)\74/a\76\n\74/b:loop\76\n\74/div76′}, ‘status-message’: {‘varName’: ”, ‘template’: ‘\74b:if cond\75\47data:navMessage\47\76\n\74div class\75\47status-msg-wrap\47\76\n\74div class\75\47status-msg-body\47\76\n\74data:navMessage\76\74/data:navMessage\76\n\74/div\76\n\74div class\75\47status-msg-border\47\76\n\74div class\75\47status-msg-bg\47\76\n\74div class\75\47status-msg-hidden\47\76\74data:navMessage\76\74/data:navMessage\76\74/div\76\n\74/div\76\n\74/div\76\n\74/div\76\n\74div style\75\47clear: both;\47\76\74/div\76\n\74/b:if76′}}, document.getElementById(‘Blog1′), {}, ‘displayModeFull’));

Posted in Uncategorized on Juli 24, 2008 by wiznhu

Modul 5
DHCP SERVER
TUJUAN PEMBELAJARAN
1. dapat memahami manfaat / kegunaan dari DHCP Server.
2. memahami kelebihan dan kekurangan penggunaan IP dinamis
dibandingkan dengan penggunaan IP statis.
3. dapat melakukan konfigurasi DHCP server pada sistem operasi Linux,
serta konfigurasi DHCP client pada Linux dan Windows.
Dasar Teori
DHCP (Dynamic Configuration Protocol) adalah layanan yang secara
otomatis memberikan nomor IP kepada komputer yang memintanya. Komputer yang
memberikan nomor IP disebut sebagai DHCP server, sedangkan komputer yang
meminta nomor IP disebut sebagai DHCP Client. Dengan demikian administrator
tidak perlu lagi harus memberikan nomor IP secara manual pada saat konfigurasi
TCP/IP, tapi cukup dengan memberikan referensi kepada DHCP Server.
Pada saat kedua DHCP client dihidupkan , maka komputer tersebut melakukan
request ke DHCP-Server untuk mendapatkan nomor IP. DHCP menjawab dengan
memberikan nomor IP yang ada di database DHCP. DHCP Server setelah
memberikan nomor IP, maka server meminjamkan (lease) nomor IP yang ada ke
DHCP-Client dan mencoret nomor IP tersebut dari daftar pool. Nomor IP diberikan
bersama dengan subnet mask dan default gateway. Jika tidak ada lagi nomor IP yang
dapat diberikan, maka client tidak dapat menginisialisasi TCP/IP, dengan sendirinya
tidak dapat tersambung pada jaringan tersebut.
Setelah periode waktu tertentu, maka pemakaian DHCP Client tersebut
dinyatakan selesaidan client tidak memperbaharui permintaan kembali, maka nomor
IP tersebut dikembalikan kepada DHCP Server, dan server dapat memberikan nomor
IP tersebut kepada Client yang membutuhkan. Lama periode ini dapat ditentukan
dalam menit, jam, bulan atau selamanya. Jangka waktu disebut leased period.
Cara Kerja DHCP :
DHCP menggunakan 4 tahapan proses untuk memberikan konfigurasi
nomor IP. (Jika Clietn punya NIC Card lebih dari satu dan perlu no IP lebih dari 1
maka proses DHCP dijalankan untuk setiap adaptor secara sendiri-sendiri) :
1. IP Least Request
Client meminta nomor IP ke server (Broadcast mencari DHCP server).
2. IP Least Offer
DHCP server (bisa satu atau lebih server jika memang ada 2 atau lebih
DHCP server) yang mempunyai no IP memberikan penawaran ke client
tersebut.
14
3. IP Lease Selection
Client memilih penawaran DHCP Server yng pertama diterima dan kembali
melakukan broadcast dengan message menyetujui peminjaman tersebut
kepada DHCP Server
4. IP Lease Acknowledge
DHCP Server yang menang memberikan jawaban atas pesan tersebut berupa
konfirmasi no IP dan informasi lain kepada Client dengan sebuah
ACKnowledgment. Kemudian client melakukan inisialisasi dengan
mengikat (binding) nomor IP tersebut dan client dapat bekerja pada jaringan
tersebut.
Sedangkan DHCP Server yang lain menarik tawarannya kembali.
Tugas Pendahuluan
1. Apa fungsi dari DHCP Server ?
2. Apa kelebihan & kekurangan penggunaan IP dinamis dibanding dengan IP
statis ?
3. Selaian IP address, informasi apa lagi yang bisa diberikan oleh DHCP
server?
4. Pada REdhat Linux, file apa yang digunakan untuk :
a. Konfigurasi DHCP server
b. Menyimpan history pemakaian IP oleh client
Percobaan
Percobaan berikut ini dilakukan oleh 1 kelompok yang terdiri atas sedikitnya 2 orang
dan menggunakan 2 komputer, yang satu difungsikan sebagai DHCP server dan
lainnya sebagai DHCP client. Komputer yang difungsikan sebagai client dapat
menggunakan sistem operasi apa saja seperti Windows, Unix, Linux, FreeBSD, dll.
Tahap pertama adalah proses instalasi dan konfigurasi DHCP server yang dilakukan
pada PC yang akan difungsikan sebagai server.
A. Proses instalasi DHCP Server
1. Login ke sistem Linux sebagai root.
2. Catatlah, berapa nomer IP address dan nama host dari PC yang anda
gunakan. Setelah itu, juga catat IP address dari komputer client (gunakan
perintah ifconfig dan hostname).
3. Pastikan bahwa komputer server yang anda gunakan sudah terhubung ke
komputer client (gunakan perintah ping).
4. Untuk menjalankan service DHCP diperlukan paket program yang
bernama dhcp*- xxx.rpm. Cek apakah program tersebut sudah terinstall
atau belum.
# rpm –qa | grep dhcp
Jika ada tampilan seperti berikut ini berarti di komputer anda program
DHCP server sudah terinstall.
# rpm -qa|grep dhcp
14
dhcp-devel-3.0pl1-23
dhcp-3.0pl1-23
Jika program sudah terinstall, langsung kerjakan langkah nomer 8.
5. Jika program DHCP belum ada, installah dengan cara sbb. Masukkan
CD Rom Redhat #2 dan ketiklah perintah berikut ini.
# mount /dev/cdrom /mnt/cdrom
# cd /mnt/cdrom
# ls –l
# cd RedHat
# ls –l
# cd RPMS
# ls –l dhcp*
# rpm –ivh dhcp*
6. Jika tidak ditemukan dhcp-xxxx.rpm (xxx = nomer versi) , tanyakan
pada instruktur dimana file dhcpd dan dhcp-devel diletakkan.
7. Instalasi program dhcp server.
# rpm –ivh dhcp*.rpm
8. Catatlah di direktori mana saja program dhcp diinstall.
# rpm –ql dhcp
a. Sebutkan apa saja file binary yang ada?
b. Apa nama file konfigurasi dhcp ?
c. Sebelum memulai praktikum, bacalah dengan seksama dokumendokumen
atau manual yang berkaitan dengan dhcp.
d. Untuk memahami fungsi dari dhcp, bacalah manual dari dhcp.
# man dhcpd
9. Konfigurasi DHCP Server.
Untuk membuat file konfigurasi DHCP server dapat kita gunakan file contoh
konfigurasi DHCP server yang telah disediakan.
[root@WSC204-01 cd2]# rpm -ql dhcp
/etc/rc.d/init.d/dhcpd
/etc/rc.d/init.d/dhcrelay
/etc/sysconfig/dhcpd
/etc/sysconfig/dhcrelay
/usr/bin/omshell
/usr/sbin/dhcpd
/usr/sbin/dhcrelay
/usr/share/doc/dhcp-3.0pl1
/usr/share/doc/dhcp-3.0pl1/CHANGES
/usr/share/doc/dhcp-3.0pl1/README
/usr/share/doc/dhcp-3.0pl1/RELNOTES
/usr/share/doc/dhcp-
3.0pl1/dhcpd.conf.sample
/usr/share/man/man1/omshell.1.gz
14
/usr/share/man/man5/dhcp-eval.5.gz
/usr/share/man/man5/dhcpd.conf.5.gz
/usr/share/man/man5/dhcpd.leases.5.gz
/usr/share/man/man8/dhcpd.8.gz
/usr/share/man/man8/dhcrelay.8.gz
/var/lib/dhcp
/var/lib/dhcp/dhcpd.leases
# cp /usr/share/doc/dhcp-
3.0pl1/dhcpd.conf.sample /etc/dhcpd.conf
Editlah file konfigurasi dhcpd.conf.
# vi /etc/dhcpd.conf
Buatlah file konfigurasi dengan isi sbb. :
ddns-update-style interim;
ignore client-updates;
subnet 10.252.105.0 netmask 255.255.255.0 {
#range IP yang digunakan
range 10.252.105.56 10.252.105.71
# default gateway
option routers 10.252.105.1;
#netmask
option subnet-mask 255.255.255.0;
#nama domain
option domain-name “eepis-its.edu”;
#ip dns server
option domain-name-servers 202.154.187.2 ;
default-lease-time 21600;
max-lease-time 43200;
}
Jangan lupa untuk menyimpan file dhcpd.conf, kemudian jalankan ulang
service dhcp.
10. Mengaktifkan service DHCP server.
Untuk menjalankan DHCP server ketikkan perintah:
# service dhcpd start
Untuk mematikan dhcp server gunakan perintah :
# service dhcpd stop
Untuk me-restart dhcp service gunakan :
# service dhcpd restart
Untuk mengetahui status dari service dhcp gunakan :
# service dhcpd status
11. Menghapus rule firewall.
Redhat Linux versi 8 atau yang lebih baru, akan mengaktifkan firewall
secara default sehingga semua akses dari luar akan ditolak. Untuk
kepentingan percobaan ini, ada baiknya untuk sementar semua rule
firewall dihapus. Gunakan perintah :
# iptables –F
12. Jalankan perintah :
14
# tail /var/log/messages
Copy paste hasilnya. Apa yang dapat dilihat dari file
/var/log/messages ?
13. Konfigurasi DHCP client
Setting DHCP client pada Windows :
 Masuk sebagai admin. Tanyakan password admin pada
instruktur.
 Pilih 1. control panel, 2. Network & Dial-up Connection, 3.
Local Area Connection, 4. Properties, 5. Internet Protocol
(TCP/IP), 6. General
 Pada tab general pilih Obtain an IP address automatically dan
Obtain DNS server addresses.
 Pada Tab Alternate configuration, pilih Automatic private IP
address
 Lalu buka command prompt dan jalankan perintah ini :
C:\Documents and setting\admin>ipconfig /release
 Lanjutkan dg perintah berikut pada command prompt
C:\Documents and setting\admin>ipconfig /renew
 Capture hasil yang didapat
 Apakah IP, domain-name, IP DNS, gateway sesuai dg
konfigurasi dapat dhcpd.conf?
14. Jalankan perintah :
# tail /var/log/messages
Copy paste hasilnya. Apa yang dapat dilihat dari file
/var/log/messages ?
15. Reboot komputer anda, masuk ke Linux dan mulailah melakukan setting
setting DHCP client pada Linux :
Pilih : System, Administration, Network
Klik dua kali pada Devices, eth0
Pada tab General, pilih Automatically obtain IP address settings with:
dhcp. Pilih OK dan simpan perubahan setting jaringan.
16. Matikan ethernet card anda:
#ifdown eth0
17. Nyalakan kembali ethernet card anda:
#ifup eth0
18. Lihatlah IP yang dipakai dg perintah :
#ifconfig
Copy paste hasil output nomor IP
19. Untuk mengecek gateway, gunakan perintah :
# route -n
Copy paste hasil output
20. Cek DNS :
# vi /etc/resolv.conf
Copy paste hasil output
21. Anda telah melihat hasil settingan DHCP di linux client anda, apakah
sesuai dg settingan yang anda buat pada dhcpd.conf ?
14
22. Uji Coba DHCP Server
Untuk melihat kinerja DHCP server, perhatikan file berikut ini. Buka file
berikut di DHCP server
#vi /var/lib/dhcp/dhcp.leases
Copy paste hasil vi. Samakah dg IP yang dikirimkan ke client windows
dan linux
23. Uji coba DHCP client. Buka file berikut di DHCP server.
# vi /var/lib/dhclient/dhclient-eth0-leases
Copy paste hasilnya. Bandingkan hasilnya dg perintah langkah 18-20.
Samakah ? Mengapa ?
24. Akhir praktikum.
Perintah-perintah berikut ini ditujukan untuk mengembalikan konfigurasi
seperti semula. Jika anda benar-benar telah selesai melakukan
praktikum, ketikkan perintah-perintah berikut ini.
# service dhcpd stop
# rm /etc/dhcpd.conf
# rpm –e dhcp
Jangan lupa : kembalikan setting IP address seperti semula
14
Laporan Resmi
15
Hasil percobaan :
Judul Percobaan : DHCP SERVER
FORMAT LAPORAN RESMI
Nama dan NRP mahasiswa
Dasar Teori :
Tugas Pendahuluan :
Daftar Pertanyaan
Berikan kesimpulan praktikum yang anda lakukan.

Posted in Uncategorized on Juli 23, 2008 by wiznhu

MAKALAH

INSTALLASI MICROSOFT WINDOWS
2000 SERVER DAN CONFIGURASI PADA
JARINGAN (CLIENT SERVER)

RAMDAN
SMK PLUS BINA TEKNIK

DAFTAR ISI

Daftar Isi …………………………………………………………………………………………  i

Bab I
Mengenal Microsoft Windows 2000 Server  …………………………………………… 1

Bab II
Instalasi Windows 2000 Server ………………………………………………………. 8

Bab III
Active Directory Service …………………………………………………………………………. 25

Bab IV
Manajemen User dan Group …………………………………………………………  34

Bab V
Koneksi Klien – Server …………………………..…………………………………  55

Penyusun
2007

Bab I
Mengenal Microsoft Windows 2000 Server

1.1. Mengenal Sistem Operasi Windows 2000
Windows  2000  Server merupakan Network Operating  System  (NOS)  untuk melakukan
konfigurasi  dan  manajemen  jaringan  baik  skala  kecil,  menengah,  maupun  besar.
Teknologi  sistem  operasi Windows  2000  sebenarnya  merupakan  kelanjutan  teknologi
Windows  NT  yang  telah  cukup  lama  digunakan  secara  luas  di  pasaran.  Keluarga
Windows 2000 terdiri dari 4 jenis sistem operasi, 3 diantaranya merupakan sistem operasi
untuk server dan 1 untuk workstation.

1.1.1.  Windows 2000 Professional
Versi  Professional  dikhususkan  sebagai  sistem  operasi  desktop  sebagaimana
Windows  98  dan  Windows  Milenium  Edition.  Sistem  ini  diposisikan  untuk
menggantikan  Windows  NT  Workstation,  dan  dapat  digunakan  pada  berbagai
kebutuhan  skala bisnis. Windows 2000 Professional mendukung penggunaan dual
processor  sehingga memberikan  kinerja  sistem  lebih  baik  untuk  berbagai  aplikasi
serius. Berbagai feature baru seperti System Preparation Tools dan Setup Manager
Wizard  semakin  memudahkan  administrator  sistem  dalam  proses  instalasi  untuk
banyak komputer. Sistem  ini  sangat  ideal digunakan  sebagai klien Windows 2000
Server karena memiliki dukungan penuh terhadap berbagai fasilitas Windows 2000
Server, terutama Active Directory dan Group Policy.

1.1.2.  Windows 2000 Server
Versi ini merupakan kelanjutan teknologi Windows NT Server 4.0 dengan berbagai
fasilitas  baru  yang  semakin  memudahkan  pengelolaan  jaringan.  Keluarga  server
Windows 2000 terdiri dari 3 jenis yaitu versi standar (Server), Advance Server, dan
Data Center Server. Windows 2000 Server memiliki  semua kemampuan yang ada
pada  versi  Professional  ditambah  berbagai  fasilitas  inti  yang  dibutuhkan  sebagai
server jaringan. Versi ini dapat digunakan sebagai file dan print server, application server, web  server, maupun communication  server. Fasilitas penting yang dimiliki
versi ini antara lain :
♣  Dukungan  untuk  penggunaan  2  processor  bila  diinstal  dengan  mode  clean
install,  atau  4  processor  apabila  instalasi  dilakukan  dengan  mengupgrade
Windows NT Server.
♣  Active  Directory  Service  untuk  memudahkan  pengelolaan  sumberdaya  dan
obyek jaringan.
♣  Sistem keamanan jaringan menggunakan Kerberos dan public key infrastructure
♣  Internet  Connection  Sharing.    Web  Server  dengan  menggunakan  Internet
Information Services versi 5.0.
♣  Windows  Terminal  Services  untuk  memudahkan  administrasi  jaringan  dan
pemanfaatan hardware komputer lama sehingga dapat digunakan untuk berbagai
aplikasi baru.
♣  Dukungan penggunaan RAM hingga 4 GB

1.1.3.  Windows 2000 Advance Server
Windows  2000  Advance  Server memiliki  kemampuan  lebih  tinggi  dibandingkan
versi  standar,  meliputi  semua  fasilitas  Windows  2000  Server  dengan  beberapa
tambahan feature penting :

♣  Network  Load  Balancing  untuk  meningkatkan  ketersediaan  server  serta
meningkatkan kinerja
♣  Windows  Clustering,  memungkinkan  komunikasi  antar  server  untuk  bekerja
sama membentuk suatu cluster sebagai satu kesatuan sistem
♣  Dukungan Symetric Multi Processing (SMP) hingga 8 processor
♣  Mendukung 8 GB RAM

1.1.4.  Windows 2000 Data Center Server
Sistem ini memiliki seluruh kemampuan versi Advance dengan tambahan berbagai
fasilitas :
♣  SMP Scalability hingga 32 processor  ♣  Mendukung physical memory sampai dengan 64 GB
♣  Fungsi clustering tingkat lanjut

Windows 2000 Data Center Server sangat sesuai digunakan sebagai sistem operasi
server bisnis skala besar seperti :

♣  Internet Service Provider (ISP) dan Web Hosting
♣  E-Commerce server dengan fasilitas Online Analytical Processing (OLTP)
♣  Data warehousing dan server database skala besar
♣  Server kebutuhan riset, misalkan untuk berbagai analisis econometric

1.2.  Fungsi Windows 2000 Server
Sebuah  server  dapat  menjalankan  berbagai  fungsi  sesuai  kebutuhan  bisnis.  Pada
organisasi skala kecil fungsi – fungsi  tersebut dapat digabungkan dalam satu server dan
satu  komputer. Untuk  organisasi  besar,  sebaiknya  setiap  fungsi  dijalankan  pada  server
terpisah sesuai dengan beban kerjanya.

1.2.1.  File Server
Fungsi  ini merupakan penggunaan paling umum dari sebuah server, dimana server
digunakan  sebagai pusat penyimpanan  file dalam  sebuah  jaringan. Dengan  sistem
ini  sistem  file  akan  lebih  terintegrasi  sehingga  memudahkan  manajemen  dan
pencarian  file. Sistem back up dan penyimpanan  file  juga dapat dilakukan dengan
lebih baik. Windows 2000 Server memiliki fasilitas Distributed File System untuk
memudah  kan  pengelolaan  file  dalam  jaringan.  Dengan  sistem  ini  pengguna
jaringan  dapat  dengan  mudah  menggunakan  dan  menyimpan  file  tanpa  perlu
mengetahui letak sebenarnya dari suatu file.

1.2.2.  Application Server
Apabila  server  digunakan  untuk  menyimpan  dan  menjalankan  suatu  program
aplikasi, maka server tersebut bertindak sebagai application server. Aplikasi diinstal
di  server  dan  dijalankan  atau  diakses  oleh  klien. Dengan  demikian  aplikasi  tidak perlu diinstal di klien sehingga memudahkan proses implementasi dan maintenance
sistem.  Windows  Terminal  Services  merupakan  fasilitas  untuk  memudahkan
penggunaan Windows 2000 Server sebagai application server.

1.2.3.  Web Server
Web  Server merupakan  komputer  yang  digunakan  sebagai  host  berbagai  aplikasi
web baik dalam  lingkungan  internet maupun  intranet.  Internet  Information Service
5.0 merupakan  komponen Windows  2000  Server  untuk memudahkan  konfigurasi
dan manajemen web site

1.2.4.  E-Mail Server
Windows  2000  Server  dapat  juga  digunakan  sebagai  E-Mail  server  dengan
menggunakan  berbagai  software  tambahan  antara  lain Microsoft Exchange, Lotus
Notes, maupun MDaemon. Fungsi E-Mail server dapat dianalogikan dengan kantor
pos dalam sistem surat menyurat konvensional.

1.2.5.  Member Server
Apabila Windows 2000 Server digunakan sebagai member server maka hanya dapat
bertindak  sebagai klien dalam  jaringan dan  tidak dapat menjalankan  fungsi  server
untuk mengatur jaringan. Ketika Windows 2000 Server diinstal pertama kali, maka
secara otomatis akan berfungsi sebagai member server. Untuk merubahnya sebagai
domain controller digunakan perintah dcpromo dari command prompt

1.2.6.  Domain Controller
Domain  Controller  (DC)  merupakan  server  yang  berfungsi  sebagai  pengatur
jaringan. Manajemen  sumber daya dan obyek  jaringan dilakukan dari DC, karena
akses  secara  penuh  terhadap  Active  Directory  hanya  dapat  dilakukan  dengan
melakukan  login  ke  DC.  Apabila  anda  pernah  mengelola  jaringan  berbasis
Windows NT maka terdapat istilah Primary Domain Controller (PDC) dan Backup
Domain  Controller  (BDC).  Dalam  sistem  jaringan  Windows  2000  dua  istilah
tersebut  sudah  tidak  dikenal  lagi.  Setiap DC  dalam  jaringan  adalah  peer  (setara) yang masing-masing dapat dikonfigurasi untuk melakukan  replikasi obyek Active
Directory,  sehingga  apabila  salah  satu  DC  tidak  berfungsi  maka  dapat  segera
digantikan  oleh  DC  yang  lain.  Sangat  disarankan  dalam  suatu  organisasi  untuk
memiliki minimal 2 DC sehingga menjamin fault tolerance.

1.3.  Feature Baru Pada Windows 2000 Server
Untuk  lebih  memahami  berbagai  fasilitas  dan  kelebihan  Windows  2000  Server
dibandingkan sistem operasi terdahulu, berikut ini dipaparkan beberapa feature baru yang
penting pada Windows 2000 Server

1.3.1.    Active Directory Service
Directory  Service  dapat  diumpamakan  sebagai  buku  direktori  telepon  yang
menyimpan  berbagai  informasi  :  nama,  alamat  dan  nomor  telepon  yang  disusun
berdasarkan  abjad  sehingga  memudahkan  proses  pencarian.  Peranan  Directory
Service dalam sebuah  jaringan adalah sebagai database yang menyimpan berbagai
informasi  sumber daya dan obyek  jaringan  secara  terpadu  sehingga dapat dikelola
dan dikonfigurasi dengan mudah. Istilah Active Directory Service digunakan dalam
lingkungan  Windows  2000  untuk  memberikan  penekanan  pada  kemampuannya
untuk melakukan berbagai fungsi manajemen secara dinamis dan terotomasi dengan
mudah  dan  cepat.  Informasi  yang  disimpan  dalam  Active  Directory  antara  lain
meliputi  user  dan  group  account,  printer,  file  server,  serta  berbagai  policy
menyangkut user dan group. User sebagai pengguna jaringan berkepentingan untuk
dapat  mengakses  berbagai  sumber  daya  dengan  cepat  dan  mudah,  sedangkan
administrator  berkepentingan  untuk  mengelola  berbagai  obyek  jaringan  secara
efisien. Active Directory memungkinkan pengelolaan jaringan menjadi lebih mudah
karena  berbagai  sumber  daya  dan  obyek  dapat  disimpan  secara  terpusat  untuk
dikonfigurasi secara terpadu.

1.3.2.    Group Policy
Group Policy merupakan media untuk mengatur profil user terutama yang berkaitan
dengan  desktop  setting.  Pengaturan  yang  dilakukan  antara  lain menentukan  jenis aplikasi  yang  tersedia  bagi  user,  konfigurasi  start  menu,  serta  akses  terhadap
berbagai  icon seperti Control Panel dan MyComputer. Fasilitas  ini sangat berguna
untuk menyesuaikan lingkungan tampilan desktop dengan tingkat keahlian seorang
user,  serta  memberikan  tingkat  keamanan  sistem  sehingga  berbagai  konfigurasi
sensitif  tidak  akan  dapat  dirubah  user.  Group  Policy  dapat  dikonfigurasi  secara
terpusat dengan menggunakan fasilitas Active Directory.

1.3.3.    Distributed File System
Ketika jaringan anda semakin besar dan jumlah user bertambah maka sering terjadi
penyimpanan file menjadi tidak rapi lagi. File – file kerja dapat tersimpan di server
maupun  lokal di komputer masing – masing dengan memberikan hak sharing bagi
pemakai lain. Proses pencarian file sering menjadi pekerjaan yang membingungkan
karena peletakan  file oleh user dilakukan dengan  tidak konsisten. Distributed File
System  (Dfs)  merupakan  solusi  masalah  penyimpanan  file  dalam  jaringan.
Administrator menyediakan folder sesuai dengan kebutuhan, sedangkan folder pada
Dfs  tersebut dihubungkan dengan  letak file secara fisik. Dengan demikian seorang
user  dapat  dengan  mudah  menyimpan  dan  mencari  file  pada  folder  yang  telah
disediakan  tanpa  perlu mengetahui  di mana  sebenarnya  letak  fisik  suatu  file. File
pada Dfs juga dapat disimpan secara offline di komputer lokal dan dilakukan proses
sinkronisasi berkala dengan file di jaringan.

1.3.4.    Terminal Services
Terminal Services merupakan  fasilitas yang dapat digunakan untuk memanfaatkan
komputer  dengan  hardware  lama  untuk  dapat  menjalankan  berbagai  aplikasi
terbaru. Terminal Services Server diinstal pada komputer server dengan spesifikasi
hardware  yang mampu menjalankan Windows  2000  Server,  sedangkan  Terminal
Services  Client  diinstal  pada  komputer  lama misalkan  sekelas  486  atau  Pentium
klasik. Komputer klien mengakses berbagai aplikasi di server dengan menggunakan
processing power komputer server. Fasilitas ini sangat berguna untuk memudahkan
administrasi  dan  maintenance  berbagai  aplikasi  secara  terpusat  karena  instalasi
aplikasi hanya dilakukan di server. Namun demikian berbagai aplikasi berat seperti AutoCad dan Corel Draw  tidak akan berjalan maksimal dengan  tools  ini. Aplikasi
yang cocok digunakan antara  lain berbagai  suite aplikasi office  seperti MS Office
dan  internet  sharing.  Terminal  Services  juga  dapat  digunakan  untuk  melakukan
remote administration terhadap suatu server.

Bab II
Instalasi Windows 2000 Server

Instalasi  merupakan  langkah  awal  yang  harus  Anda  pahami  sebelum  menggunakan
Windows  2000  Server  dalam  jaringan.  Kesempurnaan  proses  instalasi  akan  sangat
mempengaruhi  kinerja mesin  server.  Pemahaman  yang  baik mengenai  persyaratan  dan
proses  instalasi  juga akan sangat membantu dalam proses  troubleshooting serta optimasi
sistem server.

2.1   Persyaratan Hardware dan Software
Agar sistem Windows 2000 Server dapat berjalan maksimal maka dibutuhkan hardware
dan software yang sesuai dengan persyaratan minimal. Berdasarkan informasi resmi dari
website  Microsoft,  persyaratan  hardware  yang  dibutuhkan  untuk  melakukan  instalasi
Windows 2000 Server adalah sebagai berikut :

Berdasarkan  pengalaman  pribadi  penulis,  spesifikasi  yang  disebutkan  di  atas  adalah
kebutuhan minimum agar Windows 2000 Server dapat terinstal dalam komputer. Apabila
Anda  serius  menjadikan  sebuah  komputer  sebagai  server  jaringan,  maka  sangat
disarankan  menggunakan  mesin  kelas  Pentium  III  dengan  RAM  256  MB  untuk
memperoleh  kinerja  maksimal.  Untuk  menjalankan  berbagai  latihan  dalam  buku  ini
disarankan anda menggunakan komputer Pentium 200 MHz dengan RAM 128 MB. Pada
prinsipnya  semakin  tinggi  spesifikasi  hardware  Anda  maka  performa  sistem  akan
semakin  baik. Anda  perlu memberikan  perhatian  khusus  terhadap  berbagai  persyaratan
software  terutama  bila  Anda  akan  melakukan  upgrade Windows  NT  Server  4.0  atau
instalasi dual boot. Ada dua jenis sistem operasi yang dapat diupgrade menjadi Windows
2000 Server yaitu :

♣  Windows NT Server 3.51
♣  Windows NT Server 4.0

Masing-masing  sistem  operasi  tersebut  harus  diinstal  Service  Pack  minimal  versi  3
sebelum  diupgrade  ke Windows  2000  Server.  Anda  dapat  menginstal  lebih  dari  satu
sistem  operasi  dalam  satu  harddisk  dengan  syarat  sistem  partisi  pada  harddisk  Anda memenuhi  persyaratan  untuk  sistem  operasi  yang  akan  diinstal.  Prosedur  lebih  lanjut
mengenai instalasi dual boot akan dijelaskan dalam sub bab berikutnya.
2.2   Persyaratan File System dan Partisi
Pilihan  file  system  akan  sangat  berpengaruh  terhadap  jenis  sistem  operasi  yang  dapat
disimpan dalam harddisk. Setiap file system memiliki kelebihan dan kekurangan masing-
masing,  sehingga Anda  harus menentukan  file  system  yang  benar-benar  sesuai  dengan
kebutuhan  anda.  Sistem  operasi Windows  NT  baik  versi  Server  maupun Workstation
hanya mendukung  sistem  file  FAT16  dan  NTFS.  Sedangkan  keluarga Windows  2000
mendukung  sistem  file  FAT16,  FAT32,  maupun  NTFS.  Anda  harus  memperhatikan
dukungan  sistem  file  terhadap  setiap  jenis  sistem  operasi  terutama  jika  Anda  ingin
mengkonfigurasi  instalasi dual boot. Karakteristik  setiap  jenis  file  system dalam  sistem
operasi Windows dapat dilihat pada tabel berikut :

Berdasarkan tabel tersebut terlihat bahwa kemampuan maksimum keluarga Windows NT
dan  Windows  2000  hanya  dapat  digunakan  bila  diinstal  pada  partisi  NTFS.  Dengan
menggunakan sistem file NTFS anda dapat melakukan proteksi security hingga ke tingkat
file,  dibandingkan  dengan  partisi  jenis  FAT  yang  hanya  dapat  memberikan  security
hingga  tingkat  folder.  Keuntungan  menggunakan  sistem  file  FAT16  adalah  dukungan
yang luas terhadap berbagai sistem operasi. Partisi jenis ini merupakan pilihan tepat bila
anda  akan  ingin  mengkonfigurasi  instalasi  dual  boot  antara  Windows  NT  dengan
Windows  2000  atau  Windows  95.  Kekurangan  utama  FAT16  adalah  metode
penyimpanan yang kurang efisien, sehinnga ruang harddisk anda akan lebih cepat penuh
dibandingkan bila Anda menggunakan FAT32 atau NTFS.

2.3   Teknik Partisi
Harddisk  yang  akan  Anda  gunakan  dapat  dipartisi  dalam  beberapa  logical  partition.
Partisi  adalah  istilah  yang  biasa  digunakan  untuk  menyebut  pembagian  logical  dari
sebuah  harddisk. Misalkan  anda memiliki  sebuah  harddisk  berkapasitas  10  GB, maka
anda  dapat  membaginya  menjadi  dua  logical  partition  yaitu  drive  C  sebagai  primary
partition  sebesar  4 GB  dan  sisanya  drive D  sebesar  6 GB  sebagai  secondary  partition.
Anda  dapat membagi  lagi  secondary  partition  tersebut menjadi  beberapa  logical  drive
sesuai  dengan  kepentingan  Anda.  Dalam  menentukan  ukuran  partisi  Anda  perlu
memperhatikan hal-hal sebagai berikut :

Berapa jenis dan berapa banyak sistem operasi yang akan anda instal dalam harddisk.

Kebutuhan  ruang  harddisk,  misalkan  anda  akan  menginstal Windows  2000  Server  di
drive C maka  disarankan  ruang  kosong  sebesar  1GB  ditambah  space  untuk menginstal
berbagai macam software aplikasi.

Lokasi system partition dan boot partition Windows 2000 Server. System partition berisi
berbagai  file  yang  dibutuhkan Windows  2000  Server  untuk melakukan  booting,  yang
secara  default  terinstal  pada  active  partition,  umumnya  drive  C.  Boot  partition  adalah partisi  yang  berisi  folder  WINNT  dimana  file-file  Windows  2000  Server  tersimpan.
Ukuran  boot  partition  disarankan minimal  1GB,  yang  lokasinya  secara  default  ada  di
drive C  tetapi Anda dapat menentukan  lokasi  lain sesuai dengan ukuran partisi harddisk
Anda.

Anda  dapat  melakukan  partisi  harddisk  dengan  menggunakan  utility  FDISK  yang
terdapat  dalam  MS  DOS  atau  dengan  aplikasi  pihak  ketiga  seperti  Partition  Magic.
Penulis  mengasumsikan  Anda  sudah  cukup  memahami  penggunaan  utility  FDISK
sehingga tidak akan dibahas secara detil dalam buku ini. Apabila Anda belum memahami
penggunaan  utility  untuk  partisi  ini,  silahkan membaca  dokumentasi  ataupun  help  file
dalam MS DOS.

2.4   Pilihan Metode Instalasi
Untuk melakukan instalasi Windows 2000 Server dapat digunakan beberapa metode
sebagai berikut :
1)  CDROM Bootable
Cara ini paling mudah dan cepat untuk dilakukan. Anda harus mengkonfigurasi
BISO komputer untuk booting dari CDROM. Sebuah tampilan text based akan
memberikan beberapa pertanyaan mengenai lokasi penempatan Windows 2000
dan sistem partisi yang digunakan.
2)  Setup Disk
Metode ini memerlukan waktu paling lama, penulis tidak merekomendasikan
cara ini kecuali anda tidak memiliki CDROM drive yang dapat digunakan
secara bootable. Sebelum melakukan instalasi anda perlu membuat setup disk
dari komputer lain yang sudah terinstal Windows 2000 Server.
3)  Instalasi dari OS lain
Apabila anda telah memiliki sistem operasi lain di komputer, maka dapat
langsung menjalankan proses instalasi dengan memasukkan CDROM Windows
2000 Server dan memanfaatkan proses autorun.

Untuk  konfigurasi  dual  boot,  pilihlah  option  kedua.  Sedangkan  untuk
mengupgrade Windows NT Server ke Windows 2000 Server pilihlah option ke-1.
Proses  instalasi dilanjutkan dengan mencopy  temporary file ke harddisk, booting
ulang,  dan  selanjutnya  tampil  dialog  text  based  sebagaimana  instalsi  dengan
CDROM bootable.

2.5 Member Server dan Domain Controller
Sebelum melangkah  lebih  lanjut untuk melakukan  instalsi, anda perlu memahami peran
Windows  2000  Server  dalam  sebuah  jaringan.  Windows  2000  Server  dapat  diinstal
sebagai Member Server dan Domain Controller.

Bagi  anda  yang  pernah  mengenal  Windows  NT,  maka  terdapat  istilah  PDC(Primary
Domain Controller), BDC(Backup Domain Controller) dan Stand Alone Server. Dalam
arsitektur Windows 2000 konsep PDC dan BDC sudah tidak dikenal lagi. Sebuah server
yang menyimpan  konfigurasi  jaringan mengenai  data  dan  hak  setiap  account,  security,
dan  active  directory  disebut  Domain  Controller  (DC).  Peranan  DC  ini  identik  dengan
PDC dalam teknologi Windows NT. Sebagai backup dari DC yang sudah ada, diperlukan DC baru yang masing-masing kedudukannya dalam jaringan adalah setara (peer). Dengan
demikian  bila  terjadi  fault  pada  sebuah  DC,  maka  DC  lain  akan  secara  otomatis
mengambil alih peranannnya sebagai pengendali jaringan.

Antar DC dalam  jaringan Windows 2000  terjadi  replikasi data-data konfigurasi melalui
active  directory.  Replikasi  tersebut  terjadi  dalam  interval  tertentu,  untuk  menjamin
kesamaan konfigurasi antar DC.

Untuk  menginstal  sebuah  server  sebagai  DC,  maka  fasilitas  Active  Directory  harus
dipasang  di  server  tersebut.  Instalasi  Active  Directory  adalah  dengan  menjalankan
perintah DCPROMO dari command prompt, atau dengan memanfaatkan fasilitas wizard
dari menu Configure Your Server.

Sebuah server yang  tidak dikonfigurasi active directory disebut sebagai Member Server.
Member Server identik dengan Stand Alone Server dalam jaringan Windows NT. Karena
tidak memiliki active directory, maka  server  tersebut hanya memiliki user dan group di
tingkat  local  computer  saja. Member Server  dapat melakukan mapping  user  dan  group
dari DC dengan memanfaatkan fasilitas active directory, asalkan antara DC dan member
server  tersebut  terhubung  dalam  satu  network.  Member  Server  biasanya  digunakan
sebagai  server  berbagai  service  dalam  jaringan, misalnya mail  server, web  server,  file
server, maupun proxy server.

2.6 Praktek Instalasi Windows 2000 Server
Berikutnya  tiba  saatnya  bagi  anda  untuk  melakukan  instalasi Windows  2000  Server.
Dalam  praktek  ini  penulis  menggunakan  skenario  instalasi  dengan  bootable  CDROM
pada  harddisk  kosong  yang  belum  terisi  sistem  operasi  lain.  Setelah  Windows  2000
Server  terpasang  sebagai  Member  Server,  dilakukan  instalasi  Active  Directory  untuk
mengupgrade server tersebut sebagai DC dengan perintah DCPROMO.
2.6.1    Instalasi Member Server
1) Lakukan setting pada BIOS komputer anda untuk booting dari CDROM
2) Masukkan bootable CDROM Windows 2000 Server, dan restart komputer anda.
3) Tampil dialog text based, lanjutkan instalasi dengan menekan Enter.
4) Setelah tampil dialog License Agreement, tekan F8 untuk menerima agreement.
5) Selanjutnya anda diminta menentukan lokasi instalasi. Pada bagian ini anda juga
dapat menghapus dan membuat partisi baru di harddisk.
6) Tentukan jenis file sistem yang akan digunakan.
Note : Apabila anda ingin membuat uial boot, jangan menghapus partisi yang telah
terisi  OS  lain.  Pada  bagian  penentuan  jenis  partisi,  jangan  merubah  jenis
partisi  di  drive  yang  telah  terisi  OS.  Menghapus  maupun  merubah  jenis
partisi akan menghilangkan OS yang telah anda install di partisi tersebut.
7)  Setelah  selesai,  proses  intalasi  dilanjutkan  dengan  mengecek  dan  mencopy
temporary file ke harddisk.
8) Keluarkan CDROM dan restart komputer.
9) Proses intalasi dilanjutkan dengan mendeteksi hardware di komputer.
10) Selanjutnya tentukan regional setting (keyboard layput, sistem tanggal, jam, dll)
sesuai dengan kondisi lokasi anda.
11) Isikan nama pemilik komputer dan organisasinya.
12) Pilih jenis dan banyaknya lisensi yang akan digunakan. Lisensi per server
berarti dihitung berdasarkan jumlah klien yang melakukan koneksi ke server.
Sedangkan lisensi per seat mengharuskan tiap klien untuk memiliki license,
yang dapat digunakan untuk mengakses server manapun. Untuk latihan, pilihlah
per Server dan isikan jumlah koneksi = 5 klien.

13)   Langkah berikutnya adalah mengisikan nama komputer. Nama tersebut akan
digunakan untuk mengidentifikasi komputer di dalam jaringan. Misalkan anda
menginstal  server  pertama  dalam  jaringan,  isikan  SERVERPUSAT  sebagai
nama server.
14)    Isikan  password  untuk  account  Administrator.  Pastikan  anda  mengisikan
password yang cukup baik, karena account  tersebut merupakan administrator
dengan hak tertinggi dalam jaringan.
15)   Tampil dialog pilihan service yang akan diinstall. Anda dapat memilih  jenis
service yang akan disediakan server tersebut, misalnya IIS (web server), DNS
Server,  maupun  DHCP  server.  Dalam  latihan  ini,  biarkan  pilihan  tersebut
dalam kondisi default dan lanjutnkan instalasi. Anda akan melakukan instalasi
setiap service pada bab-bab selanjutnya sesuai dengan kebutuhan.

16) Selanjutnya tampil pilihan dialog untuk Network Setting. Pilih Custom untuk
menampilkan dialog konfigurasi jaringan.

17)   Sorot Internet Protocol, dan klik Properties untuk mengisikan konfigurasi IP
Address sebagai berikut :

IP Address : 192.168.0.1
Subnet Mask : 255.255.255.0
Kosongkan  kotak  lain,  dan  tutup  dialog.  Pengisian  IP  address  tersebut
menggunakan  klas  C  yang  biasa  dipakai  di  lingkungan  LAN.  Anda  dapat
menyesuaikannya dengan kondisi jaringan bila diperlukan.
18)  Tampil dialog Workgroup dan Domain, yang menanyakan kedudukan server
tersebut di dalam  jaringan. Karena dalam praktek  ini anda menginstal  server
pertama dalam  jaringan dan domain baru, maka pilihlah option pertama dan
kosongkan kotak Workgroup or computer domain.

19)   Klik Next untuk melanjutkan  instalasi. Proses  instalasi akan dilanjutkan dengan
melakukan  setting  jaringan  dan  hardware.  Proses  tersebut  bervariasi
kecepatannya,  tergantung  spesifikasi  komputer  anda.  Anda  mungkin  diminta
memasukkan CDROM Windows 2000 atau disket driver sesuai keperluan.  20) Setelah konfigurasi selesai, booting ulang komputer anda dan selanjutnya  tampil
dialog  login  ke  Windows  2000  Server.  Tekan  Ctrl+Alt+Del  dan  masukkan
password untuk user Administrator.

21)    Tampil  desktop  Windows  2000  Server,  dan  anda  siap  melakukan  berbagai
konfigurasi server.
Pada  tahap  ini Windows  2000 Server  telah  terinstal  sebagai member  server.
Untuk  membuatnya  sebagai  Domain  Controller  perlu  dieksekusi  perintah
DCPROMO.

2.6.2    Instalasi Domain Controller
Member Server bersifat  stand  alone  sehingga  tidak dapat digunakan untuk
mengatur konfigurasi jaringan. Biasanya Member Server menginduk ke DC
untuk memberikan  service  jaringan  tertentu. Pada praktek berikutnya  anda
akan  mengupgrade  Member  Server  menjadi  DC,  yang  merupakan  DC
pertama di jaringan anda.

1)         Klik Start > Run dan ketikkan DCPROMO
Perintah  tersebut  akan  menginstal  Active  Directory  sehingga  server
dinaikkan  statusnya  dari  Member  Server  ke  Domain  Controller.  Anda
akan menginstal DC pertama dalam Domain.

2)   Tampil Dialog  type Domain  Controller,  pilih Domain  Controller  For A
New  Domain.  Apabila  anda  menginstal  DC  tambahan  dalam  sebuah
Domain, aktifkan option ke-2.

3)  Berikutnya  tampil  pilihan  untuk menentukan  jenis  domain  yang  dibuat.
Aktifkan Create A New Domain  Tree  untuk membuat Domain  pertama
dalam jaringan.

4)  Pilih  Create  A  New  Forest  Of  Domain  Trees  pada  dialog  Join  Forest.
Domain yang dibuat adalah level tertinggi dalam Forest baru.

Note  :  Forest,  Tree,  dan  Domain  adalah  terminologi  yang  digunakan
dalam  konsep  jaringan Windows  2000  untuk  mengidentifikasi  kesatuan
organisasi  jaringan.  Domain  merupakan  kesatuan  terkecil  dari  sebuah
jaringan.  Beberapa  Domain  dapat  bergabung  membentuk  Tree  dan
gabungan dari beberapa Tree disebut Forest

5)   Isikan  nama  Domain  untuk  organisasi  anda,  Gunakan  Full  Qualified
Domain  Name  sesuai  peraturan  Internic.  Anda  dapat  menggunakan
Domain  yang  sudah  terdaftar  resmi,  atau  domain  fiktif  dengan  nama
tertentu  yang  dikehendaki.  Apabila  anda  akan  mempublish  jaringan  ke
internet, sebaiknya digunakan nama Domain yang telah terdaftar.

6)   Langkah selanjutnya adalah menentukan NETBIOS Name untuk Domain
tersebut. Hal ini digunakan untuk mendukung OS sebelum Windows 2000
seperti  Win98  dan  Win  NT  yang  menggunakan  NETBIOS  untuk
meresolve nama host di jaringan.

7)   Tentukan  lokasi  penyimpanan  data  Active  Directory,  yaitu  data  log,
system volume, dan Active Directory Database.

Note  :  Lokasi  penyimpanan  data  Active  Directory  harus  menggunakan
partisi NTFS. Apabila  system partition  anda menggunakan FAT32,  anda
harus  menyediakan  sebuah  volume  dengan  partisi  NTFS  untuk
menyimpan  data  tersebut.  Dalam  sebuah  jaringan  besar  dimana  sering
terjadi update dan replikasi data Active Directory sebaiknya data  tersebut disimpan di harddisk terpisah dari sistem operasi, sehingga meningkatkan
kinerja sistem
8)  Proses  instalasi dilanjutkan dengan mengecek keberadaan DNS Server di
dalam  jaringan. Apabila  tidak  terdapat DNS Server maka Windows 2000
akan meminta konfirmasi untuk menginstal DNS Server di DC tersebut.
9)  Tunggu  sampai  proses  instalasi  selesai,  instalasi  dilanjutkan  dengan
booting ulang.
10)   Lakukan  login  ke  DC  sebagai  Administrator,  setelah  Active  Directory
terpasang akan terlihat beberapa menu tambahan di bagian Administrative
Tools, antara lain Active Directory Users and Computers yang merupakan
menu utama untuk konfigurasi user, group dan security jaringan.

Bab III
Active Directory Service

Active Directory  (AD) merupakan feature  terpenting Windows 2000 yang membedakan
dari arsitektur Windows NT. Bagi anda yang telah berpengalaman dengan Windows NT,
maka  Active  Directory  adalah  pengganti  teknoogi  NT  SAM  database  yang  berisi
konfigurasi  security,  user,  group,  dan  komputer,  dengan  banyak  kelebihan  lain  yang
dimiliki AD.
3.1 Konsep dan Fungsi Active Directory
Active  Directory  adalah  directory  service  yang  menyimpan  konfigurasi  jaringan  baik
user,  group,  komputer,  hardware,  serta  berbagai  policy  keamanan  dalam  satu  database
terpusat.  Peranan  AD  dalam  jaringan  dapat  diumpamakan  sebagai  buku  telepon,  yang
menyimpan daftar alamat dan  informasi penting untuk mengenali berbagai obyek dalam
jaringan.
Peran  utama  AD  adalah  menyediakan  sarana  untuk  melakukan  admnistrasi  jaringan
secara terpusat baik di level domain maupun lintas domain, selama antar domain tersebut
masih berada dalam satu forest.
Kehadiran AD  semakin memudahkan administrator dalam mengelola  jaringan  sehingga
tidak diperlukan kehadiran administrator secara fisik, karena konfigurasi user, group, dan
komputer  dapat  dilakukan  secara  remote.  Hal  tersebut  dimungkinkan  dengan  adanya
Global Catalog (GC) yang menyimpan konfigurasi komputer dan obyek jaringan, dimana
GC  tersebut  dapat  diakses  dari  manapun  di  dalam  jaringan  dengan  memanfaatkan
infrastruktur AD.

Kemudahan dan feature yang ditawarkan AD antara lain adalah :
1)  Simplified Administration
AD menyediakan  “single  point”  dalam  hal  administrasi  semua  sumber  daya
jaringan.  Seorang  administrator  dapat  melakukan  login  dari  komputer
manapun  di  dalam  jaringan  dan melakukan  konfigurasi  terhadap  obyek  dan
setiap komputer dalam jaringan.
2)  Scalability
AD mampu mengelola  sampai dengan  jutaan obyek, dibandingkan arsitektur
Windows NT yang “hanya” mampu menangani maksimal 40000 obyek dalam
satu domain.
3)  Open Standard
AD kompatibel dan mendukung berbagai protokol dan teknologi standar yang
ada, antara  lain LDAP dan LDIF, sehingga AD dapat berkomunikasi dengan
Novell  Directory  Service  dan  teknologi  lain  yang  menggunakan  LDAP.
Support  terhadap  HTTP memungkinkan  AD  diakses  dari  web  browser  dan
berbagai  bahasa  pemrograman  pengakses  data.  Windows  2000  juga
mengadopsi Kerberos 5 sebagai protokol otentifikasinya, sehingga kompatibel
dengan  berbagai  produk  yang  menggunakan  protokol  sejenis.  Sistem
penamaan  domain  dalam  AD  menggunakan  standar  DNS  name,  sehingga
nama  domain  Windows  2000  merupakan  standar  penamaan  domain  yang
digunakan di internet, maka lebih mudah melakukan koneksi dengan internet.
3.2 Struktur Active Directory
AD terdiri dari berbagai obyek, yang merupakan representasi obyek-obyek yang terdapat
di  dalam  jaringan  baik  hardware,  user, maupun  domain.  Hirarki  struktur  AD  tersebut
dapat digambarkan sebagai berikut

Object : adalah istilah yang digunakan untuk menyebut suatu unit tertentu yang terdapat
di dalam jaringan, misalnya user, group, printer, ataupun shared folder.
Container : merupakan “wadah” yang di dalamnya terisi berbagai macam obyek.
Organizational  Unit  (OU)  :  adalah  representasi  Container  yang  didalamnya  berisi
berbagai  macam  obyek.  OU  merupakan  kesatuan  terkecil  dimana  pengaturan  Group
Polivy  dalam  AD  dapat  diterapkan.  Biasanya  OU  tersebut  mencerminkan  kesatuan
organisasi  tertentu  dalam  jaringan,  misalnya  dapat  didefinisikan  OU  untuk  Sales,
Marketing, Direksi, dan sebagainya.
Domain  : merupakan kesatuan  jaringan  terkecil, yang didalamnya berisi berbagai obyek
dan  OU.  Domain  merupakan  security  boundary,  sehingga  seluruh  obyek  dalam  satu
domain  berada  dalam  otoritas  security  yang  sama.  Sebuah  organisasi  dapat  memiliki
lebih  dari  satu  domain  dalam  jaringannya,  tergantung  pada  kebutuhan  bisnis  maupun
policy keamanannya.
Tree  : adalah gabungan dari beberapa domain yang masing-masing masih berada dalam
satu  induk namespace. Misalnya dibentuk  suatu  tree dengan  induk domain matrik.com,
dan  di  level  bawahnya  terdapat  dua  domain  bernama  sales.matrik.com  dan
developer.matrik.com.

Forest  :  beberapa  tree  dapat  bergabung  menjadi  sebuah  forest  dan  masing-masing
domain tersebut menggunakan namspace yang berbeda. Domain yang berada dalam satu
forest menggunakan global catalog yang sama, sehingga informasi konfigurasi dan obyek
jaringan  antar  domain  dalam  satu  forest  dapat  saling  pertukarkan  dan  diakses  secara
terpusat.
3.3 Menggunakan Microsoft Management Console
Microsoft Management Console adalah satu set  interfae untuk memudahkan konfigurasi
dan  monitoring  semua  obyek  di  jaringan Windows  2000.  Anda  dapat  menambahkan
obyek-obyek yang akan dimanage dengan menambahkan snap-in ke dalam MMC.
Snap-in yang dapat ditambahkan sangat beragam, antara lain :
♣  Internet Service Manager; untuk pengelolaan Web Server
♣  Group Policy; pengelolaan group policy adan hak user
♣  Active  Directory  User  and  Computer;  untuk  manajemen  user,  group,  dan
active directory
♣  DHCP Server; untuk konfigurasi DHCP
Untuk menampilkan dialog MMC ketikkan mmc pada dialog command prompt, sehingga
tampil jendela utama MMC sebagai berikut :

Untuk menampilkan snap-in yang akan ditambahkan klik Console > Add/Remove Snap-
in, lalu klik Add sehingga tampil koleksi snap-in yang siap ditambahkan ke MMC.

Anda dapat menambahkan berbagai Snap-in ke  dalam MMC  sesuai dengan kebutuhan.
Untuk manajemen user, group, dan Active Directory,  sorot Active Directory Users  and
Computers  lalu klik Add. Tambahkan pula snap-in  lain yaitu Active Directory Domains
and Trusts dan Active Directory Sites and Services.

Selanjutnya anda  tutup dialog MMC dan  simpan dengan nama AD Admin. Anda dapat
membuat banyak MMC sesuai dengan kebutuhan, dan memberikan nama sesuai dengan
snap-in yang ditambahkan. Hal  ini memudahkan dalam administrasi dan akses  terhadap
jendela konfigurasi yang dibutuhkan.

3.4 Navigasi Obyek Active Directory
Setelah  anda  membuat  MMC  snap-in,  maka  anda  dapat  melakukan  navigasi  dan
konfigurasi berbagai obyek AD. Semua obyek yang telah dipublish ke AD dapat diakses
konfigurasinya  oleh  administrator,  sehingga  sangat  memudahkan  administrator  dalam
administrasi jaringan. Publikasi obyek ke AD juga memudahkan pencarian obyek dalam
jaringan.  Untuk  mengakses  MMC  yang  telah  dibuat,  buka  menu  Start  >  Program  >
Administrative Tools > AD Admin. Selanjutnya  tampil jendela utama MMC Admin AD
yang telah dibuat sebelumnya. Untuk melihat user dan group yang telah tersedia, expand
Active Directory Users and Computers lalu sorot folder User. Tampak built in group dan
user yang telah tersedia di Windows 2000 Server secara default.

Pada gambar di atas  terlihat  telah dibuat beberapa Organizational Unit  (OU),  yaitu OU
Sales,  Engineering,  dan  Akunting.  Pembuatan  OU  tersebut  biasanya  mengacu  pada
struktur organisasi yang ada, karena biasanya penetapan hak user ditetapkan berdasarkan
kedudukannya dalam organisasi.
Sebuah  OU  dapat  dibuat  di  level  domain,  yaitu  diletakkan  di  bawah  domain  (pada
gambar diatas domainnya adalah matrik.com). Anda  juga dapat membuat OU di dalam
OU lain, seperti layaknya folder dan sub folder, sebagaimana gambar berikut :

Terlihat  dalam  OU  Sales  dibagi  lagi  menjadi  dua  OU,  yaitu  Sales  Pusat  dan  Sales
Cabang. OU merupakan  kesatuan  terkecil  dimana Group  Policy  dalam Windows  2000
dapat diterapkan. Misalkan anda  ingin menetapkan semua user dan group yang  terdapat
di OU  Sales  tidak  dapat membuka Control  Panel  dan menjalankan Command  Prompt,
maka anda tinggal membuat Group Policy yang sesuai, dan menerapkannya ke OU Sales.
Dengan menerapkan policy di level OU maka secara otomatis akan diterapkan ke semua
user dan group yang terdapat di dalam OU tersebut. Hal ini tentunya sangat memudahkan
pekerjaan  seorang  administrator. Teknik-teknik  ini  akan  anda pelajari  lebih detil dalam
bab-bab selanjutnya.
Anda dapat memindahkan obyek-obyek AD dari  satu OU ke OU  lain,  seperti  layaknya
mengcopy  suatu  file  antar  folder.  Misalnya  anda  ingin  memindahkan  built  in  user
Administrator, maka anda tinggal mengklik kanan user tersebut, dan memilih Move.

Lalu memilih OU dimana obyek tersebut akan dipindahkan, misalnya OU IT

Setelah proses pemindahan  selesai,  tampak user  tersebut  telah berpindah  tempat ke OU
IT:

Untuk mengetahui  jenis-jenis  obyek  yang  dapat  dibuat  dan  dimanage  dalam AD,  anda
dapat memilih  salah  satu OU,  lalu  klik  kanan  pada OU  tersebut. Maka  terlihat  obyek-
obyek yang dapat dibuat sebagai berikut :

Obyek-obyek tersebut adalah :
♣   Computer
♣   Contact
♣   Group
♣   Organizational Unit
♣   Printer
♣   User
♣   Shared Folder
Dalam  bab-bab  selanjutnya  anda  akan  banyak  membuat  dan  mengkonfigurasi  obyek-
obyek tersebut dengan AD sebagai sarana publikasi dan pencariannya.

Bab IV
Manajemen User dan Group

Untuk memberikan hak akses berbagai sumberdaya jaringan kepada para pengguna maka
harus  dibuat  terlebih  dahulu  user  dan  group  untuk  tiap-tiap  pengguna. Windows  2000
mengenali seorang pengguna serta hak-hak yang dimilikinya berdasarkan user dan group
yang terdapat di DC.

Representasi  seorang  pengguna  dalam  sebuah  jaringan  adalah  user  account  (untuk
selanjutnya disebut account). Sebuah account biasanya diberi nama sesuai dengan nama
pengguna yang bersangkutan, atau dengan nama khusus sesuai dengan  tujuan dibuatnya
account tersebut.

Beberapa account dapat digabungkan dalam  satu atau  lebih group. Fungsi group adalah
menggolongkan account ke dalam kelompok-kelompok  tertentu sesuai dengan hak yang
akan diberikan. Biasanya account yang berada dalam satu group memiliki hak akses yang
sama terhadap sumber daya jaringan tertentu. Dengan menggunakan group tersebut maka
pekerjaan  administrator  akan menjadi  lebih mudah,  karena  hak  akses  cukup  diterapkan
terhadap suatu group daripada harus menetapkan policy satu per satu untuk tiap account.

4.1 Membuat dan Mengatur User Account
User  account  digunakan  oleh  pengguna  untuk  login  ke  domain Windows  2000  dalam
jaringan. Berdasarkan scope nya user account dapat dibedakan menjadi 2 jenis :

Local User Account
Adalah account yang terdapat di suatu komputer baik DC maupun klien dan hanya dapat
digunakan untuk  login ke komputer dimana  account  tersebut dibuat. Konsep  local user
account  dan  domain  user  account  ini  sangat  penting  dipahami,  terutama  bila  komputer klien  menggunakan  Windows  2000  Professional  /  Server  maupun  Windows  XP.
Demikian juga jika klien menggunakan Windows NT baik Workstation maupun Server.

Dalam  arsitektur Windows NT  dan Windows  2000/Xp,  setiap  komputer memiliki  user
dan group Sendiri yang hanya berlaku untuk komputer  tersebut  saja. Selain  itu  terdapat
account di level domain yang dibuat di DC dan memiliki scope untuk semua komputer di
dalam domain.

Domain user account
Domain  user  account  adalah  account  yang  memiliki  cakupan  di  seluruh  domain,  dan
dibuat dengan menggunakan faslitas AD yang terdapat di DC. Domain account dibuat di
DC  dan  dapat  digunakan  oleh  pengguna  untuk  login  ke  dalam  jaringan  dari  komputer
manapun selama hak login tersebut diberikan.

Berbeda  dengan  local  account,  domain  account memiliki  scope  untuk  seluruh  domain
sehingga  policy  yang  ditetapkan  untuk  suatu  account  akan  berlaku  pula  di  seluruh
domain.  Misalnya  suatu  account  diberikan  hak  untuk  menggunakan  printer  A  yang
terdapat  di  komputer  B.  Maka  pengguna  yang  menggunakan  account  tersebut  dapat
menggunakan printer A  tanpa dipengaruhi di computer mana pengguna  tersebut  sedang
bekerja.Bagan  berikut  menggambarkan  kedudukan  domain  account  dan  local  account
dalam sebuah domain :

Apabila  seorang pengguna  login ke domain menggunakan domain account maka policy
yang ditetapkan adalah di  level domain, yang dibuat oleh administrator melalui  fasilitas
AD.  Data  domain  account  tersebut  tersimpan  di  DC.  Apabila  dalam  jaringan  terdapat
lebih  dari  satu  DC  maka  data  domain  account  tersebut  direplikasikan  di  semua  DC.
Dengan demikian konfigurasi policy untuk suatu account yang terdapat di AD akan tetap
diterapkan  terlepas  dari  komputer  mana  seorang  pengguna  melakukan  login.  Selama
komputer  tersebut  masih  berada  dalam  satu  domain  maka  policy  tersebut  akan  tetap
diterapkan.

Sedangkan  local  account  berlaku  sebaliknya,  yaitu  hanya  memiliki  lingkup  di  suatu
computer  tertentu.  Misalkan  dalam  gambar  diatas  menggunakan  local  account  yang
terdapat di Klient1 untuk login ke komputer tersebut, maka akan diterapkan policy yang
hanya berlaku di Klien1. Account yang dibuat di Klien1 tidak dapat digunkan untuk login
ke Klien2, begitu  juga sebaliknya. Tetapi account yang  terdapat di DC dapat digunakan
untuk login ke Klien1 dan Klien2, karena informasi account tersebut tersimpab di AD.

Latihan 4.1
Membuat User Account

Dalam  latihan  ini  anda  akan  membuat  account  di  DC  sehingga  account  tersebut
merupakan  domain  account.  Penulis mengasumsikan  anda  sudah menginstal Windows
2000 dan mengkonfigurasikannya sebagai DC sebagaimana dijelaskan di Bab 2.

Lakukan  login ke DC anda  sebagai Administrator dengan menggunakan user name dan
password yang telah anda buat di Bab 2. Anda tidak akan dapat membuat user dan group
apabila tidak login sebagai administrator.

Buka  Menu  Start  >  Program  >  Administrative  Tools  >  Active  Directory  User  and
Computer  untuk menampilkan menu  konfigurasi  user,  group  dan  berbagai  obyek AD.
Alternatif  lain  adalah  dengan  menggunakan  MMC  yang  telah  anda  buat  di  Bab  3
mengenai Active Directory.  Pada  gambar  berikut  terlihat AD  dengan  domain  bernama Matrik.com. Di folder user  terlihat beberapa user baik yang dibuat sendiri maupun built
in user.

Untuk membuat  user  baru,  klik  kanan  di  area  kosong  yang  terdapat  di  jendela  sebelah
kanan. Pilih New > User. Alternatif  lain adalah dengan mengklik kanan  folder atau OU
tertentu yang terdapat di bawah domain. Misalnya anda mengklik kanan OU Sales maka
user account yang dibuat akan langsung ditempatkan di bagian Sales.

Setelah  tampil  dialog New Object-User,  isikan  data  untuk  user  yang  akan  dibuat. Data
First name, Last name, dan Intials merupakan data yang akan ditampilkan dijendela AD
Users  and Computers.  Sedangkan  data  yang  digunakan  untuk  login  ke  jaringan  adalah
User  logon  name.  Dengan  demikian  anda  dapat  saja memberikan  nama  yang  berbeda
antara  nama  seorang  pengguna  dangan  logon  name  yang  digunakan  sebagai  account
login. Penulis menyarankan untuk tetap menggunakan nama yang berkaitan dengan nama
user yang sebenarnya untuk menghindari kesulitan administrasi di kemudian hari. Selain
itu terdapat logon name untuk pre-windows 2000 yang digunakan untuk login dari Klien
yang tidak memakai Windows 2000 seperti Windows 98 atau NT. Secara default bagian
ini langsung terisi sama dengan logon name untuk Windows 2000.

Penulis  sering menjumpai  pengguna  pemula,  apalagi  yang  kurang  memahami  bahasa
Inggeris  menganggap  permintaan  penggantian  password  oleh  komputer  saat  login
pertama sebagai error yang harus ditangani. Apabila terdapat 50 pengguna semacam ini
dalam  jaringan  anda,  maka  bersiaplah  untuk  menerima  telepon  komplain  yang
sebenarnya tidak diperlukan

Setelah  pengisian  selesai,  klik Next  dan  akan  tampil  kotak  konfirmasi  berisi  data  user
yang telah dibuat.

Setelah  proses  pembuatan  user  selesai,  tampak  user  bernama  Alisha  Fatah  terdapat  di
jendela kanan MMC anda.

Note  : Anda  harus  selalu  ingat  bahwa Alisha Fatah  adalah  nama  untuk  user  tersebut,
sedangkan untuk  login ke  jaringan harus menggunakan account  : Lisha. Penulis sering
menjumpai administrator pemula salah menafsirkan dan tidak dapat membedakan antara
User name dan Logon name.
Ulangi kembali langkah-langkah diatas untuk membuat user lain sebagai berikut :

User yang dibuat tersebut akan digunakan sebagai latihan dalam pelajaran berikutnya.

Mengatur Property User
Setelah  account  untuk  user  dibuat  maka  perlu  dikonfigurasi  property  untuk  account
tersebut  sesuai  hak  dan  policy  yang  akan  diterapkan. Berikut  dijelaskan  beberapa  jenis
property yang sering digunakan dalam administrasi jaringan, dan untuk lebih lengkapnya
mengenai  properti  account  tersebut  anda  dapat merujuk  pada  help  file Windows  2000
Server yang cukup  lengkap pembahasannya. Porperty account diakses dengan mengklik
ganda suatu account atau dengan mengklik kanan dan memilih Properties.

Selanjutnya akan tampil jendela pengaturan property user sebagai berikut :

Pada bab ini hanya akan dibahas tab Account dan Member Of dari 12 tab yang terdapat di
jendela  tersebut.  Pembahasan  untuk  fungsi-fungsi  lain  akan  dilakukan  pada  bab-bab
berikutnya.

Membatasi Waktu Login
Anda  dapat  membatasi  waktu  login  user  di  jaringan  dengan  menekan  tombol  Logon
Hours  yang  terdapat  di  tab Account. Misalnya  ada  user  yang  hanya  boleh mengakses
jaringan  dari  jam  08.00  s/d  17.00,  maka  anda  dapat  menerapkan  pembatasan  waktu
terhadap  user  tersebut  Pembatasan  ini  sering  digunakan  untuk  menghindari  adanya
pengguna  yang mengakses  sumber  daya  jaringan  di  luar  jam  kerja,  atau menghindari
penyalahgunaan  account  oleh  pihak  yang  tidak  berkepentingan.  Gambar  berikut
menunjukkan setting untuk user Lisha yang hanya diperbolehkan login dari hari Senin s/d
Jumat jam 08:00 s/d 18:00.

Blok  warna  menunjukkan  user  tersebut  diijinkan  login,  sedangkan  blok  putih
menunjukkan  waktu  dimana  user  tersebut  tidak  diijinkan  login.  Kuliah  Berseri
IlmuKomputer.Com  Perlu  diketahui  bahwa  pembatasan  tersebut  adalah  untuk  login  ke
domain atau ke jaringan. Sedangkan bila pengguna tersebut login ke komputer lokal (bila
memakai Win NT/2000) maka tetap bisa dilakukan.

Dari Komputer Mana Boleh Login ?
Pembatasan  lain  yang  dapat  dilakukan  adalah  dari  komputer  mana  seorang  pengguna
dapat  login  ke  jaringan.  Secara  default  account  yang  dibuat  dapat  digunakan  di  semua
workstation  dalam  jaringan.  Anda  dapat  membatasi  komputer  yang  daapt  digunakan
untuk login oleh suatu account, dengan mengklik tombol Log On To yang terdapat di tab
Account. Pembatasan  tersebut biasanya bertujuan agar pengguna yang berbeda bagian  /
departemen tidak dapat memakai komputer milik departemen lain.

Pada  gambar  di  atas  terlihat  dimasukkan  nama  komputer  Purchasing  dan  Akunting,
sehingga account  tersebut hanya dapat digunakan untuk  login dari 2 komputer  tersebut.
Pada  bagian  Computer  name  dimasukkan  nama  komputer,  yang  dapat  anda  lihat  di
property Network Neighbourhood (Win 98/ NT) atau My Network Places (Win 2000).
Note : Fasilitas ini menggunakan protocol NetBIOS, sehingga anda harus mengaktifkan
protocol tersebut di Windows 2000 Server. Sistem Operasi Windows non Windows 2000
menggunakan  NetBIOS  untuk  me-resolve  nama  komputer,  sedangkan  Windows  2000
mengunakan sistem DNS. Penggunaan NetBIOS dalam fasilitas ini adalah pengecualian,
karena  kemungkinan  terdapat  klien  yang  belum  menggunakan  Windows  2000.  Untuk
mengaktifkan  NetBIOS  di  Windows  2000  anda  dapat  melihat  petunjuknya  di  help
Windows 2000 dengan keyword NetBT.

Pengaturan Group untuk Account
Beberapa  account  dapat  dikelompokkan  menjadi  group  sesuai  dengan  kepentingan
administrasinya. Dengan mengelompokkan beberapa account menjadi group maka policy
dan  hak  untuk  suatu  account  cukup  diterapkan  di  level  group  saja,  tanpa  perlu
menerapkan  satu per  satu ke  tiap  account. Pengaturan  group untuk user  terdapat di  tab
Member  Of,  apabila  anda  klik  tombol  Add  akan  tampil  dialog  Select  Groups  yang
menampilkan nama-nama group ynag tersedia. Group tersebut dapat
merupakan built in group maupun yang anda buat sendiri selaku administrator.

ebuah  account  dapat  menjadi  anggota  satu  atau  lebih  group,  tergantung  kepentingan
administrative nya. Dalam gambar di atas terlihat user Lisha dimasukkan sebagai anggota
group Administrator.

Menonaktifkan Account
Sebuah  account  dapat  dinonaktifkan  sehingga  account  tersebut  tidak  dapat  digunakan
oleh pemiliknya. Biasanya fasilitas ini digunakan apabila ada seorang pengguna yang cuti
atau  tugas  keluar  kota  sementara  waktu  sehingga  accountnya  perlu  dinonaktifkan.
Tujuannya  adalah  agar  account  tersebut  tidak  disalahgunakan  oleh  pengguna  lain  yang
tidak  berhak.  Apbila  suatu  account  diklik  kanan  maka  tampil  context  menu,  pilihlah
Disable Account untuk menonaktifkan account tersebut.

Untuk  mengaktifkan  kembali  account  tersebut,  klik  Enable  Account  dari  menu  yang
sama.

Mereset Password
Sering  ditemui  seorang  user  lupa  passwordnya,  sehingga  anda  perlu mereset  password
tersebut  dan  memberikan  password  baru.  Menu  yang  digunakan  sama  dengan
menonaktifkan account dengan memilih Reset Password dari context menu.

Selanjutnya anda dapat mengisikan password baru untuk account tersbut dan menentukan
pilihan apakah user perlu mengganti passwordnya pada saat login atau tidak.

Mengedit Nama dan Logon
Tab  General  dan  Account  account  menyediakan  fasilitas  untuk  mengganti  Nama  dan
Logon  Name  seorang  pengguna.  Sebagaimana  telah  diterangkan  sebelumnya,  Name
adalah nama yang didisplay untuk suatu account. Sedangkan nama yang digunakan untuk
login  adalah  logon Name. Anda  dapat  langsung menghapus  dan mengganti  data Name
dan  deskripsi  lainnya  di  tab  General  tersebut.  Sedangkan  penggantian  Logon  Name
tersedia di tab Account.

Menghapus Account
Apabila  suatu  account  sudah  tidak  diperlukan  lagi,  anda  dapt  menghapusnya  dengan
sanga mudah. Sorot account yang akan dihapus dan  tekan  tombol Delete pada keyboard
anda. Alternatif lain adalah dengan memilih Delete pada context menu sebagaimana cara
mereset  password  diatas. Windows  2000  akan  menampilkan  dialog  konfirmasi  untuk
menegaskan kebenaran perintah penghapusan tersebut.

Latihan 4.2
Mengedit dan Mengatur Account
Dalam  latihan  ini anda akan merubah beberapa property user Lisha yang  telah dibuat di
Latihan 4.1.
1.  Buka menu Administrative Tools > Active Directory Users & Computers, lalu
tampilkan property untuk account Lisha.

2.  Tambahkan keterangan alamat E-Mail di tab General denga alamat
User@hotmail.com

3.  Klik tab Account dan tentukan pembatasan jam login dengan menekan tombol
Logon hours.
Tetapkan hak login sepanjang hari kecuali hari minggu.

4.  Selanjutnya  klik  tab Member Of  dan  klik  tombol Add  untuk memunculkan
daftar  nama  group  yang  tersedia  di  domain.  Pilih  group Administrators  lalu
klik Add  untuk menambahkan  group  tersebut  ke  daftar Member  of. Dengan
demikian  account  lisha  tersebut  menjadi  anggota  group  Administrator  dan
memiliki hak penuh untuk melakukan berbagai konfigurasi server.

5. Klik OK untuk mengakhiri Konfigurasi.

4.2 Membuat dan Mengatur Group Account
Setelah  anda membuat  user  account, maka  langkah  selanjutnya  adalah membuat  group
account  yang  digunakan  untuk  memudahkan  administasi  jaringan.  Group  account
merupakan  sekumpulan  user  account,  di  dalamnya  dapat  terdiri  dari  user  account  atau
group  account  lainnya.  Jadi  tidak  ada  halangan  suatu  group  beranggotakan  group  lain.
Sebagaimana  telah  diterangkan  sebelumnya,  group  account  sangat  memudahkan
pengaturan  jaringan karena policy yang diterapkan di  suatu group akan diterapkan pula
terhadap  anggota  group  tersebut. Ketika  anda membuat  group maka  tersedia  beberapa jenis  pilihan  untuk  menentukan  tipe  group  yang  dibuat.  Penting  bagi  anda  selaku
administrator memahami dengan baik type dan ruang lingkup dari tiap jenis group.

Type Group Account
Berdasarkan  fungsinya,  terdapat  dua  jenis  group  yaitu Security Group  dan Distribution
Group.

• Security Group
Digunakan  untuk  memberikan  hak  akses  terhadap  sumber  daya  jaringan  tertentu.
Windows  2000  menggunakan  security  group  dalam  penentuan  hak  suatu  account,
termasuk  juga untuk melakukan  suatu  job  tertentu untuk  sekumpulan user. Penggunaan
praktisnya antara  lain pemberian hak akses  terhadap suatu file, atau mendistribusikan e-
mail  ke  sekelompok  user.  Security  group  memiliki  semua  kemampuan  dan  fungsi
distribution group, tetapi tidak sebaliknya.

• Distribution Group
Group  jenis  ini  digunakan  untuk  berbagai  fungsi  yang  tidak  terkait  dengan  masalah
security  atau  pemberian  hak  akses.  Misalnya  untuk  mendistribusikan  pesan  kepada
sekelompok  user.  Integrasi  dengan  active  directory  memungkinkan  administrator
menyampaikan  pesan  atau  distribusi  file  ke  sekelompok  user  yang  dimasukkan  dalam
distribution group.

Group Scope
Berdasarkan scope atau ruang  lingkup suatu group,  terdapat 3  jenis group yang masing-
masing memiliki scope tersendiri.

Gambar  di  atas menunjukkan  pilihan  scope  dan  type  group  yang  tersedia  ketika  anda
membuat  sebuah  group.  Untuk  memahami  scope  dan  type  tersebut,  sebaiknya  anda
memikirkan sebuah jaringan Windows 2000 dalam skala besar, yang terdiri dari beberapa
domain dan bergabung menjadi tree atau forest sebagaimana telah dijelaskan dalam Bab
2.

• Domain Local Group
Domain  local group biasanya digunakan untuk memberikan hak akses  terhadap  sumber
daya  jaringan  tertentu  dalam  suatu  domain,  misalnya  printer,  folder,  file  maupun
hardware lainnya. Karakteristik domain local group adalah :
♣  Dapat beranggotakan user atau group dari domain manapun
♣  Hanya  dapat  digunakan  untuk memberikan  hak  akses  yang  terdapat  di  domain
dimana
♣  Group tersebut dibuat.
♣  Group ini hanya dapat dilihat di domain dimana group tersebut dibuat

• Global Group
Penggunaan  group  jenis  ini  biasanya  adalah  untuk memberikan  hak  akses  kepada  user
atau group yang memiliki kesamaan hak akses terhadap sumber daya jaringan tertentu.
♣  Hanya  dapat  beranggotakan  user  atau  group  yang  terdapat  di  domain  dimana
group trsebut dibuat
♣  Dapat digunakan untuk memberikan hak akses yang terdapat di domain manapun,
meskipun bukan di domain asal group tersebut
♣  Group ini dapat dilihat dari domain manapun dalam jaringan

• Universal Group
Universal group memiliki karakteristik yang merupakan gabungan dari domain local dan
global  group.  Group  jenis  ini  biasa  digunakan  apabila  terdapat  user  atau  group  yang
memerlukan hak akses sumber daya jaringan lintas domain. Misalnya untuk mobile user
yang sering berpindah kota, dan harus mengakses file di tiap-tiap kota tersebut.
♣  Dapat beranggotakan user atau group dari domain manapun
♣  Dapat digunakan untuk memberikan hak akses yang terdapat di domain manapun
♣  Group ini dapat dilihat dari domain manapun dalam jaringan
♣  Tersedia apabila semua DC menggunakan Windos 2000 Server (Native Mode)
Karena  karakteristik  universal  group  yang  sangat  flexible  tersebut,  disarankan  kepada
administrator untuk tidak menggunakan universal group kecuali benar-benar dibutuhkan.
Penggunaan  universal  group  tanpa  kontrol  yang  baik  akan memperbesar  kemungkinan
lubang keamanan dalam jaringan anda.
Note  :  Pemula  Windows  2000,  apalagi  yang  belum  pernah  mengenal  dunia  jaringan
computer sering sulit untuk memahami  tujuan dibuatnya scope dan  type masing-masing
group  tersebut.  Apabila  anda  mengelola  jaringan  1  domain  dengan  hanya  30  PC,
pemahaman  type  dan  scope  tersebut  mungkin  tidaklah  terlalu  penting.  Ketika  anda
mengelola 100 PC dengan 2 atau 3 domain, maka anda akan menemukan bahwa konsep
active  directory,  termasuk  di  dalamnya  type  dan  scope  group  tersebut menjadi  sangat
berguna  untuk  menentukan  policy  dan  pembuatan  group  dalam  jaringan.  Untuk
membuat  sebuah  group  anda  menggunakan  menu  yang  sama  dengan  membuat  user account yaitu dari console Active Directory Users and Computers. Klik Menu Action >
New > Group atau dengan mengklik kanan pada ruang kosong di console tersebut.

Selanjutnya  anda  dapat  mengisikan  nama  group,  type  dan  scopenya  sesuai  dengan
deskripsi  yang  telah dijelaskan di  atas. Apabila dalam  jaringan  anda  terdapat komputer
yang menggunakan system operasi non windows 2000 maka perlu diisikan group name
untuk pre Windows 2000. Secara default bagian ini terisi sama dengan group name nya.

Dalam  gambar  di  atas  terlihat  dibuat  group  bernama  Sales  dengan  type  Security  dan
scope  nya  adalah  global. Dengan  demikian  Sales merupakan  global  group  yang  dapat
dilihat  dari  domain  manapun  di  dalam  jaringan,  tetapi  hanya  dapat  beranggotakan
user/group yang berada di domain yang sama dengan domain asal group Sales tersebut.
Untuk  mengedit  property  group  tersebut,  anda  tinggal  mengklik  kanan  nama  group
tersebut untuk menampilkan jendela property nya.

Tab Members  berisi  daftar  user  account  yang  menjadi  anggota  group  Sales  tersebut.
Anda dapat menambahkan user untuk menjadi anggota group  tersebut dengan menekan
tombol Add untuk menampilkan daftar user sebagai berikut:

Pada bagian dialog Select users  terdapat drop down combo Look  in dimana anda dapat
memilih  dari  domain  mana  user  account  yang  akan  dimasukkan.  Tampak  domain
Matrik.com yang telah dibuat penulis untuk latihan ini.

Apabila anda memiliki  lebih dari  satu domain di  jaringan, maka akan  terlihat beberapa
domain  yang  masing-masing  memiliki  user  dan  group  Pada  bagian  ini  juga  terliha
komputer  lain  yang menggunakan Windows  2000,  dimana  di  dalam  komputer  tersebut
terdapat  user  dan  group  dengan  scope  lokal  untuk  komputer  tersebut  saja. Anda  dapat
memasukkan  local user di suatu komputer menjadi anggota domain group yang  terdapat
di  domain  server.  Inilah  yang  disebut  kemudahan  administrasi  terpusat  yang
memanfaatkan  AD,  karena  anda  dapat  menambil  dan  mengatur  user  dan  group  yang
terdapat di jaringan dari satu tempat saja.

Penggunaan tools ini akan dibahas lebih lanjut di bab-bab selanjutnya. Pada tab Member
of  terdapat daftar nama group yang menjadi  induk group  sales  tersebut. Artinya  sebuah
group dapat menjadi anggota dari group lain di atasnya, begitu seterusnya.

Latihan 4.3 Membuat Group Account
Buatlah beberapa group sesuai dengan tabel berikut :

Group yang telah dibuat tersebut akan anda gunakan pada pelajaran berikutnya.

Bab V
Koneksi Klien – Server

Menghubungkan  klien  dengan  server  dalam  sebuah  jaringan merupakan  salah
satu  tugas  pokok  seorang  administrator  jaringan.  Sebuah  jaringan  dianggap
berfungsi  apabila  klien/workstation  dapat  terkoneksi  dengan  server,  sehingga
dapat mengkases berbagai sumber daya jaringan.

Tidak peduli apapun yang telah anda pelajari tentang jaringan dan teorinya, anda
akan  dianggap  tidak mampu  apabila  ternyata  klien  dan  server  dalam  jaringan
tidak bisa  terkoneksi. Koneksi adalah segalanya, karena  tanpa koneksi sebuah
workstation dan server tidak berarti apa-apa.

Mengingat  pentingnya  hal  ini  maka  anda  harus  menguasai  teknik
menghubungkan  klien  yang  terdiri  dari  berbagai  sistem  operasi  dengan  server
Windows 2000. Setelah anda menginstall Windows 2000 Server dan membuat
user  maupun  group,  maka  langkah  selanjutnya  adalah  mengkonfigurasi
workstation  dalam  jaringan  sehingga  mereka  dapat  saling  berkomunikasi  dan
terhubung. Ini adalah misi utama anda selaku administrator sistem.

Mengkoneksikan  klien  ke  server  sering  lebih  merupakan  seni  daripada  ilmu
eksak.  Anda  akan  sering  menemukan  masalah  yang  menuntut  kemampuan
troubleshooting.  Di  sinilah  kemampuan  anda  sebenarnya  diuji.  Pertama,  anda
harus memastikan  bahwa  network  card  dan  drivernya  terpasang  dengan  baik.
Kedua,  pastikan  TCP/IP  telah  terpasang  dan  terhubung  dalam  satu  subnet.
Selanjutnya  klien akan menghubungkan diri  ke  jaringan menggunakan account
yang telah disediakan.

Kegagalan koneksi dapat disebabkan berbagai hal. Bisa disebabkan hardware,
maupun  software.  Faktor  hardware  antara  lain  Network  card,  kabel  jaringan,
konektor  RJ45,  Hub,  atau  memang  mainboard  komputer  tersebut  ternyata
bermasalah. Di sisi  lain anda harus memiliki soft skill  tentang konsepsi TCP/IP
dalam sebuah jaringan.

5.1 Prasyarat Pengetahuan 5.1 Prasyarat Pengetahuan
Sebelum melangkah  lebih  jauh  ada  baiknya  dipaparkan  hal-hal  apa  saja  yang
harus  anda  ketahui  ketika  menghubungkan  klien  dan  server  dalam  sebuah
jaringan.  Kuliah  berseri  ini  hanya  memfokuskan  pada  konfigurasi  dan
administrasi jaringan berbasis Windows 2000. Berbagai pengetahuan dasar yang
perlu anda kuasai tidak dibahas di sini, penulis hanya menyediakan berbagai link
yang  sebaiknya  anda  pelajari  terlebih  dahulu.  Pengetahuan  yang  sebaiknya
anda kuasai adalah :
1. Instalasi Kartu Jaringan / Network Card
2. Konsep dan teori topologi jaringan
3. Dasar-dasar protokol TCP/IP
4. Teknik pengkabelan dalam jaringan

5.2 Prinsip Konfigurasi
Dalam sistem jaringan Windows terdapat 2 jenis mode jaringan :
♣  Peer to Peer atau Workgroup
Dalam sistem  ini  tidak  terdapat server utama yang menjadi pengatur dan
penyimpan  konfigurasijaringan  secara  terpusat.  Setiap  komputer  dapat
berfungsi sebagai klien dan server sekaligus.
♣  Sistem Domain dengan Domain Controller
Merupakan sistem dimana terdapat server yang berfungsi menyimpan dan
mengatur  konfigurasi  jaringan.  Server  utama  disebut  sebagai  Domain
Controller.

Dalam  pelajaran  ini  kita  hanya  akan membahas  sistem  domain  karena  tujuan
penggunaan Windows 2000 Server akan dapat dimaksimalkan apabila berfungsi
sebagai Domain Controller.
Prinsip utama konfigurasi  jaringan baik sistem workgroup maupun domain pada
dasarnya sama, yaitu :
1.  Komputer dalam jaringan harus sudah dapat terkoneksi di level
network,  yaitu  dapat  mengirim  dan  membalas  ping  satu  sama  lain.
Untuk mengetesnya digunaan utility ping dari command
prompt :

Pada  gambar  diatas  terlihat  bahwa  komputer  dengan  IP  address  192.168.0.2
tidak  dapat  dihubungi.  Untuk mendukung  hal  ini maka  setiap  komputer  dalam
jaringan  harus  berada  dalam  satu  subnet.  Asumsinya  adalah  tidak  terdapat
router dalam  jaringan, karena umumnya sebuah  jaringan  lokal hanya  terdiri dari
satu subnet saja.

2.  Semua  komputer  dalam  jaringan  harus  berada  pada  workgroup  dan
domain  yang  sama.  Ini  berarti  antar  komputer  tersebut  dapat  saling
terhubung  satu  sama  lain  dalam  sebuha  kelompok  workgroup  atau
domain.

3.  Setiap  user  sudah memiliki  user  account  yang  sesuai  di DC. Dalam
sistem domain maka setiap user yang akan mengakses sumber daya
di  jaringan  haru  sudah  terdaftar  namanya  di  DC.  Ini  untuk menjaga
integrasi  autentifikasi  user  dalam  jaringan,  sehingga  tidak  terdapat
password dan user yang berbeda untuk setiap sumber daya yang ada.

5.3 Klien Windows 2000/Xp
Cara  ini  dapat  digunakan  untuk Windows  2000  versi  Professional  dan  Server,
serta Windows Xp  versi Home Cara  ini  dapat  digunakan  untuk Windows  2000
versi  Professional  dan  Server,  serta  Windows  Xp  versi  Home  maupun
professional. maupun professional.
Teknik  konfigurasinya  adalah  sebagai  berikut  :  Teknik  konfigurasinya  adalah
sebagai berikut :

1. 1.   Buka menu Control Panel > Network. Pastikan service Client for Microsoft
Network  dan  Internet  Buka  menu  Control  Panel  >  Network.  Pastikan
service Client  for Microsoft Network dan  Internet Protocol  (TCP/IP)  telah
terpasang.

Anda harus menginstallnya dengan. Klik tombol Install dan Jika service tersebut
belum terpasang anda harus menginstallnya dengan. Klik tombol Install dan
pasang service untuk Client dan Protocol.

2. 2.   Buka menu My Computer > Control Panel > System, lalu pilih tab Network
Identification  Buka menu My  Computer  >  Control  Panel  >  System,  lalu
pilih tab Network Identification

3. 3.   Klik  Properties,  pada  bagian  Domain masukkan  nama  domainnya  yaitu
Matrix. Klik Properties, pada bagian Domain masukkan nama domainnya
yaitu Matrix.

4.   Masukkan  user  dan  password  administrator  PDC.  Password  yang
dimasukkan  adalah  milik  user  yang  Masukkan  user  dan  password
administrator  PDC.  Password  yang  dimasukkan  adalah milik  user  yang
menjadi  anggota  group  Administrator.  menjadi  anggota  group
Administrator.

5. 5.   Klik OK lalu tunggu beberapa saat. Apabila penggabungan berhasil maka
akan muncul pesan : Klik OK lalu tunggu beberapa saat. Apabila penggabungan
berhasil maka akan muncul pesan :
Welcome to Matrix Domain.

5.4   Klien Windows NT
1.    Buka  menu  Control  Panel  >  Network  >  tab  Services.  Pastikan
service  workstation  telah  terpasang.  Buka menu  Control  Panel  >
Network  >  tab  Services.  Pastikan  service  workstation  telah
terpasang. Jika belum ada klik Add untuk menambah service.

2.   Selanjutnya  buka  property  TCP/IP  di  tab  IP  Address.  Masukkan
informasi  IP  untuk  komputer Selanjutnya  buka property TCP/IP di
tab IP Address. Masukkan informasi IP untuk computer tersebut.

3.   Buka  menu  Control  Panel  >  Network  >  tab  Identification.  Pada
kotak  isian Domain masukkan  nama Buka menu Control Panel  >
Network  >  tab  Identification.  Pada  kotak  isian  Domain masukkan
nama domain : Matrix.

4.   Aktifkan  pilihan Create Computer Account  in Domain,  selanjutnya
anda  diminta  memasukkan  Aktifkan  pilihan  Create  Computer
Account  in  Domain,  selanjutnya  anda  diminta  memasukkan
password administrator.

5.   Tunggu  beberapa  saat.  Apabila  berhasil  maka  muncul  pesan  :
Welcome  to  Matrix  Domain  Tunggu  beberapa  saat.  Apabila
berhasil  maka  muncul  pesan  : Welcome  to  Matrix  Domain  Klien
Windows 98/Me 5.5 Klien Windows 98/Me

1. 1.   Buka  menu  MyComputer  >  Control  Panel  >  Network.  Pastikan
service  Client  for Microsoft  Networks  Buka menu MyComputer  >
Control  Panel  >  Network.  Pastikan  service  Client  for  Microsoft
Networks telah terpasang. telah terpasang.

2. 2.   Apabila  belum  ada,  install  dengan menekan  tombol Add  lalu  pilih
Client  >  Client  for  Microsoft  Apabila  belum  ada,  install  dengan
menekan  tombol  Add  lalu  pilih  Client  >  Client  for  Microsoft
Networks.

3.   Jadikan  Client  for  Microsoft  Networks  sebagai  Primary  Network
Logon.

4. 4.   Sorot  service  Client  for  Microsoft  Networks  lalu  klik  Properties.
Pada  bagian  Logon  to  NT  Domains  Sorot  service  Client  for
Microsoft Networks  lalu  klik Properties. Pada bagian Logon  to NT
Domains  masukkan  nama  domain  :  Matrix.  masukkan  nama
domain : Matrix.

5. 5.   Klik  tab  Identification  dan  isikan  nama  komputer  klien  serta
Workgroup  nya.  Misalnya  Computer  Klik  tab  Identification  dan
isikan  nama  komputer  klien  serta  Workgroup  nya.  Misalnya
Computer  name  diisi  dengan  MatrixWin98,  dan  Workgroup  diisi
MATRIX.

Nama  Workgroup  tersebut  harus  sama  untuk  semua  komputer
dalam jaringan.

6. 6.  Klik OK, kemungkinan besar Windows akan meminta untuk restart.
Setelah  itu  tampil  dialog  login.  Klik  OK,  kemungkinan  besar
Windows  akan  meminta  untuk  restart.  Setelah  itu  tampil  dialog
login. Menguji Koneksi Klien-Server Menguji Koneksi Klien-Server

Setelah proses konfigurasi maka komputer klien direstart, dan akan
muncul dialog  login meminta user dan Setelah proses  konfigurasi
maka  komputer  klien  direstart,  dan  akan  muncul  dialog  login
meminta user dan password.

Masukkan user dan password yang  telah dibuat di Bab 4. Apabila
konfigurasi berhasil maka password. Masukkan user dan password
yang  telah  dibuat  di  Bab  4.  Apabila  konfigurasi  berhasil  maka
komputer  akan  menampilkan  desktop  sebagaimana  biasanya.
komputer  akan  menampilkan  desktop  sebagaimana  biasanya.
Kemudian  anda  dapat melihat  komputer  lain  dalam  jaringan  dari
Windows  Explorer  >  Network  Kemudian  anda  dapat  melihat
komputer  lain  dalam  jaringan  dari Windows  Explorer  >  Network
Neighbourhood.  Menu  shorcut  Neighbourhood/MyNetwork  Places
juga terdapat di desktop.

Apabila  anda  membrowse  tiap  komputer  maka  akan  ditampilkan
folder  dan  printer  di  komputer  tersebut  yang  Apabila  anda
membrowse  tiap  komputer  maka  akan  ditampilkan  folder  dan
printer  di  komputer  tersebut  yang  telah  disharing  (jika  ada).  telah
disharing (jika ada).

Posted in Uncategorized on Juni 25, 2008 by wiznhu

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.